RadarBuleleng.id - Program vaksinasi Lumpy Skin Disease (LSD) atau cacar sapi pada ternak sapi dan kerbau di Kabupaten Jembrana, Bali, dijadwalkan mulai dilaksanakan hari ini, Selasa (20/1/2026).
Meski begitu, pelaksanaan program vaksinasi pada hewan ternak masih menuai pro dan kontra di kalangan peternak.
Sejumlah peternak menyatakan keberatan dan enggan melakukan vaksinasi karena khawatir vaksin justru menimbulkan efek samping pada ternaknya.
Kekhawatiran itu muncul lantaran vaksin LSD diberikan pada sapi atau kerbau yang berada di wilayah tertular, termasuk ternak yang diduga sudah terpapar virus tetapi belum menunjukkan gejala klinis.
Dalam sejumlah kasus, sapi atau kerbau yang telah tertular dan kemudian disuntik vaksin dilaporkan mengalami reaksi tertentu, sehingga memicu kekhawatiran akan dampak yang lebih fatal.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, membenarkan bahwa vaksinasi LSD mulai dijadwalkan hari ini dengan sasaran desa dan kelurahan tertular di Kecamatan Melaya dan Negara.
“Kebijakan dari Dirjen, vaksin diberikan terhadap sapi yang ada di wilayah tertular,” ujar Sugiarta.
Ia menjelaskan, pada rencana awal, vaksinasi LSD akan menyasar wilayah di luar desa tertular dengan radius sekitar 5 hingga 10 kilometer.
Namun, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mengeluarkan kebijakan baru agar vaksinasi difokuskan pada hewan ternak yang belum tertular di daerah tertular.
Kebijakan tersebut diakui memicu kekhawatiran di tengah masyarakat, khususnya peternak sapi di Jembrana.
Pasalnya, berkembang keyakinan bahwa sapi yang menerima vaksin berisiko mengalami efek samping, terutama ternak yang sebenarnya sudah tertular tetapi belum menunjukkan gejala penyakit.
“Memang ada kekhawatiran itu dari peternak. Makanya sebelum melakukan vaksinasi, kami akan KIE dulu kepada peternak,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penanganan cacar sapi di wilayah tertular membutuhkan upaya ekstra dan pendekatan menyeluruh.
Selain vaksinasi, langkah lain yang dilakukan meliputi penyemprotan disinfektan, pengobatan gratis bagi ternak yang sakit, serta edukasi dan pemahaman kepada masyarakat agar dapat menerima program vaksinasi cacar sapi.
Seperti diketahui, kasus penyakit kulit berbenjol atau Lumpy Skin Disease mulai menyebar di Bali.
Kabupaten Jembrana menjadi daerah pertama di Bali yang ditemukan kasus penyakit yang juga dikenal sebagai cacar sapi tersebut.
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 28 ekor sapi dinyatakan positif LSD yang tersebar di lima desa dan satu kelurahan di wilayah Kecamatan Negara dan Melaya.
Dari jumlah tersebut, empat ekor sapi dilaporkan mati, sementara lima ekor lainnya telah disembelih.
Meski demikian, sapi tertular LSD yang dipotong dipastikan aman untuk dikonsumsi. Penyakit LSD bukan termasuk penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya