RadarBuleleng.id - Kematian pohon mangrove di kawasan KSOP Benoa, tepatnya di utara Jalan Tol Bali Mandara dan sebelah barat Jalan Raya Pelabuhan Benoa, menuai sorotan serius.
Yayasan Bendega Alam Lestari, organisasi penggiat pelestarian mangrove, menyebut dugaan kuat pencemaran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar menjadi pemicu utama rusaknya vegetasi bakau di lokasi tersebut.
Dugaan itu sejalan dengan hasil investigasi tim peneliti dari Universitas Udayana yang menemukan indikasi pencemaran sebagai penyebab utama kematian mangrove.
Expertise Forestry Yayasan Bendega Alam Lestari, Kanda Raharja mengatakan, gejala di lapangan menunjukkan pola kematian yang tidak wajar.
Deretan pohon mangrove terlihat mengering dan mati memanjang mengikuti alur tertentu, mengindikasikan adanya faktor abiotik.
“Kemungkinan besar mangrove tersebut mati karena keracunan cemaran di air atau pada substratnya,” ujar Raharja.
Ia menambahkan, berdasarkan pengamatan tim di lapangan serta informasi yang dihimpun, terdapat tumpukan sampah dan pipa-pipa yang diduga mengalami kebocoran sehingga berpotensi menjadi sumber pencemaran.
Menurutnya, perlu segera dibentuk tim investigasi independen untuk memastikan penyebab pasti sekaligus mencegah dampak yang lebih luas.
“Perlu dibentuk tim investigasi untuk mencari dalang yang mencemari lingkungan tersebut agar bisa dimintai pertanggungjawabannya,” tegasnya.
Raharja menekankan bahwa membesarkan mangrove hingga menjadi pohon dewasa membutuhkan waktu puluhan tahun.
Pada fase awal, tanaman tersebut memerlukan perawatan intensif dan pengawasan ketat agar akarnya tumbuh kuat dan stabil.
“Namun, jika sudah menjadi pohon besar, asalkan lingkungannya tidak terganggu—contohnya akibat pencemaran—tingkat kelangsungan hidupnya (survival rate) sangat tinggi dan cenderung sudah sangat kuat,” tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, misteri kematian massal mangrove di kawasan hutan milik Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) di Bali mulai menemukan titik terang. Kasus ini bahkan telah dilaporkan ke Polda Bali oleh tiga lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Tim peneliti dari Universitas Udayana menemukan indikasi kuat pencemaran BBM jenis solar sebagai penyebab utama matinya bakau di lokasi tersebut. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya