RadarBuleleng.id - Kemacetan lalu lintas di Bali kian mendesak untuk ditangani dengan cepat.
Proyek subway yang dirancang pada tahun 2024 lalu, mangkrak hingga kini. Lantaran tidak ada investor yang melirik proyek tersebut.
Kini pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan, mulai melirik transportasi laut sebagai solusi alternatif.
Salah satunya melalui rencana pengoperasian water taxi yang menghubungkan Bandara Ngurah Rai dengan kawasan wisata padat seperti Canggu.
Rencana tersebut disampaikan Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI dan Gubernur Bali Wayan Koster, Rabu (8/4/2026).
Menurut Dudy, skema taksi laut ini dirancang untuk memanfaatkan keunggulan geografis Bali sekaligus mengurangi beban kendaraan di jalur darat, khususnya di wilayah Kabupaten Badung yang selama ini menjadi titik kemacetan terparah.
“Pengembangan water taxi itu solusi alternatif mengintegrasikan darat, laut, dan udara untuk mengurangi kepadatan khususnya di Kabupaten Badung,” jelasnya.
Rute water taxi nantinya tidak hanya menghubungkan bandara dengan Canggu, tetapi juga menjangkau kawasan wisata lain seperti Seminyak, Kuta, dan Uluwatu.
Dari sisi efisiensi, moda transportasi ini dinilai mampu memangkas waktu tempuh secara signifikan.
Jika perjalanan darat bisa memakan waktu hingga dua jam, water taxi diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari bandara menuju kawasan wisata.
Selain cepat, sistem ini juga diklaim lebih ramah lingkungan dan mendukung keberlanjutan sektor pariwisata Bali yang terus berkembang.
Canggu sendiri saat ini menjadi salah satu magnet wisata utama. Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan terhadap 1.271 responden pada Agustus lalu, kawasan ini masuk dalam tiga besar destinasi paling diminati wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Untuk merealisasikan proyek ini, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp1,21 triliun.
Sejumlah infrastruktur pendukung juga akan dibangun, termasuk breakwater atau penahan gelombang di beberapa titik seperti kawasan bandara, Pantai Sekeh, dan Pantai Berawa.
Proyek ini ditargetkan mulai tahap pengembangan sejak Januari 2026, dengan konstruksi dijadwalkan berlangsung Agustus 2026 hingga Juli 2027.
Nantinya, operasional water taxi direncanakan dikelola oleh PT ASDP Indonesia Ferry yang saat ini tengah menyusun studi Detail Engineering Design (DED).
Di sisi lain, rencana pengembangan transportasi berbasis rel seperti MRT dan LRT di Bali masih belum menunjukkan progres signifikan. Minimnya minat investor menjadi kendala utama.
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, bahkan sempat mempertanyakan kelanjutan proyek tersebut dalam rapat.
Menanggapi hal itu, Menhub mengakui bahwa hingga kini belum ada investor yang serius melanjutkan pembahasan proyek kereta di Bali.
“Memang sebelumnya ada minat, namun sampai saat ini belum ada investor yang mau membicarakan kembali pengembangan kereta. Kami tetap mencoba menawarkan kepada pihak investor,” jelas Dudy. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya