Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mantap! Siswa SD di Bali Ubah Sampah Sisa MBG jadi Pupuk Cair

Juliadi Radar Bali • Selasa, 21 April 2026 | 07:20 WIB
OLAH LIMBAH: Siswa di SDN 5 Gubug mengolah limbah makanan, termasuk sisa makan bergizi gratis (MBG) menjadi pupuk organik. (Juliadi/Radar Bali)
OLAH LIMBAH: Siswa di SDN 5 Gubug mengolah limbah makanan, termasuk sisa makan bergizi gratis (MBG) menjadi pupuk organik. (Juliadi/Radar Bali)

 

RadarBuleleng.id - Kepedulian terhadap lingkungan kini menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan. 

Hal itu dibuktikan SDN 5 Gubug, Kabupaten Tabanan, Bali, yang menghadirkan inovasi pengolahan sampah organik menjadi pupuk ramah lingkungan.

Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di Bali, sekolah ini menggagas program Pocaris (Pupuk Organik Cair dari Tong Komposter). 

Inovasi tersebut menjadi bagian dari program Tebas Lestari, yang mengusung konsep Teba Modern, Bank Sampah, Alat Komposter, dan sirkular 3R, sekaligus terintegrasi dengan ketahanan pangan di lingkungan sekolah.

Program ini memanfaatkan sampah organik seperti sisa makanan kantin, limbah dari program makan bergizi gratis (MBG), hingga dedaunan kering. 

Seluruh proses pengolahan dilakukan menggunakan tong komposter dengan melibatkan siswa secara langsung, didampingi guru sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan.

Kepala SDN 5 Gubug, Ni Nyoman Dian Trisna Dewi, menjelaskan inovasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap persoalan sampah yang belum tertangani optimal di Bali, termasuk di Tabanan.

"Karena itulah inovasi Pocaris muncul bagaimana kami di lingkungan sekolah ikut serta mengolah keberadaan sampah organik yang dihasilkan di lingkungan sekolah," ujarnya.

Melalui metode Pocaris, sampah organik diolah menjadi pupuk cair yang memiliki banyak manfaat, seperti menyuburkan tanaman di kebun sekolah, meningkatkan pertumbuhan tanaman secara alami, serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Tak hanya itu, program ini juga menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memahami pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus mendukung ketahanan pangan sekolah.

Keunggulan lainnya, proses pembuatan pupuk ini tergolong sederhana dan berbiaya rendah, namun mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai guna.

"Sisi positif lainnya adalah siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung dalam menjaga lingkungan," jelasnya.

Dalam praktiknya, sampah organik terlebih dahulu dipilah oleh siswa, lalu dimasukkan ke dalam tong komposter. Selanjutnya ditambahkan air dan aktivator seperti EM4 atau bahan alami sejenis, kemudian difermentasi selama 1 hingga 3 bulan.

Hasil akhirnya berupa cairan lindi yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair untuk mendukung kegiatan pertanian di lingkungan sekolah.

Dengan inovasi ini, SDN 5 Gubug tidak hanya berhasil mengurangi volume sampah, tetapi juga mengubahnya menjadi sumber daya yang bermanfaat. 

Program Pocaris pun menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah bisa dilakukan secara kreatif, edukatif, dan berdampak nyata. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#Mbg #bali #lingkungan #pendidikan #sampah