Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Viral Aksi Pengeroyokan di Jimbaran. Ternyata Dipicu Challenge TikTok

I Wayan Widyantara • Senin, 4 Mei 2026 | 06:42 WIB
ilustrasi penganiayaan
ilustrasi penganiayaan

 

RadarBuleleng.id – Keributan yang terjadi di sebuah minimarket di kawasan Jimbaran, Bali, viral di media sosial setelah videonya beredar luas di TikTok. 

Insiden tersebut terjadi di Coco Mart, Jalan Taman Griya, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Jumat (1/5/2026) malam.

Pemicu aksi pengeroyokan itu ternyata sederhana. Hanya gara-gara masalah challenge melalui media sosial TikTok.

Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra, menjelaskan peristiwa ini pertama kali diketahui sekitar pukul 20.30 WITA, namun baru dilaporkan ke pihak kepolisian sekitar pukul 22.50 WITA.

”Peristiwa ini bermula dari aktivitas siaran langsung di TikTok yang dilakukan oleh saksi bersama dua rekannya, di mana terjadi challenge gift mawar yang berujung kesalahpahaman,” ujarnya, Minggu (3/5).

Dari hasil penyelidikan, keributan dipicu saat seorang pelajar berinisial KGDG, 14, melakukan live TikTok bersama dua rekannya, AR dan BI. 

Dalam siaran tersebut, terdapat tantangan gift mawar yang mengharuskan peserta menerima ketukan di kepala. Namun, BI tidak menerima perlakuan tersebut dan memicu emosi.

”Kesalahpahaman tersebut kemudian berkembang menjadi konflik fisik setelah salah satu pihak merasa didorong dan tidak terima,” jelasnya.

Situasi semakin memanas ketika keluarga masing-masing pihak ikut terlibat. Kakak dari BI disebut tidak terima adiknya dipukul, sementara pihak lainnya juga menghadirkan kerabat. 

Keributan pun meluas di sekitar lokasi, bahkan salah satu pihak membawa benda seperti besi dan setang sepeda.

Akibatnya, warga sekitar berdatangan dan kerumunan tak terhindarkan. Kondisi sempat tidak kondusif sebelum akhirnya aparat kepolisian turun tangan mengamankan situasi.

Salah satu saksi, MS, 19, mengaku awalnya tidak berada di lokasi. Ia datang setelah dihubungi temannya yang mengaku menjadi korban pemukulan.

Setibanya di lokasi, MS berusaha melerai keributan. Namun situasi kembali memanas saat ia dan rekannya meninggalkan tempat kejadian.

Di tengah perjalanan dekat Coco Mart, MS mengaku dicegat dan ditanya soal kejadian. Ia bersikeras tidak tahu menahu peristiwa yang terjadi karena hanya berusaha melerai.

Tak lama berselang, sekelompok orang datang dan diduga melakukan pengeroyokan terhadap MS dan teman-temannya.

Mereka bahkan sempat dibawa ke sebuah banjar, diikat, dan kembali mengalami pemukulan sebelum akhirnya dilepaskan.

Polisi mengidentifikasi dua terduga pelaku, yakni BAA, 17, dan MRA M, 17, yang keduanya berasal dari Banyuwangi. Keduanya juga mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

”Terduga pelaku pertama mengalami luka di wajah dan bagian belakang kepala, sementara terduga pelaku kedua mengalami luka ringan di bibir dan tangan,” jelas Adi Saputra.

Meski sempat memicu ketegangan, kedua belah pihak akhirnya sepakat menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan. 

Kesepakatan damai telah dibuat dan ditandatangani, serta kedua pihak berkomitmen tidak melanjutkan perkara ke ranah hukum.

”Kedua belah pihak sepakat untuk tidak melanjutkan permasalahan ini secara hukum dan menjamin tidak akan ada aksi balasan di kemudian hari,” tutupnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#banyuwangi #emosi #pelajar #tiktok #media sosial