Jurnalis Bali Gelar Aksi di Renon, Desak Prabowo Minta Maaf atas Sebutan "Londo Ireng"

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 05:43 WIB
AKSI DAMAI: Jurnalis di Bali menggelar aksi damai di Renon, sebagai bentuk protes atas pernyataan Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis sebagai "londo ireng". (Miftahuddin M. Halim/Radar Bali)
AKSI DAMAI: Jurnalis di Bali menggelar aksi damai di Renon, sebagai bentuk protes atas pernyataan Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis sebagai "londo ireng". (Miftahuddin M. Halim/Radar Bali)

 

RadarBuleleng.id – Solidaritas Jurnalis Bali (SJB) menggelar aksi damai di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, kawasan Renon, Denpasar, Minggu (2/8/2026). 

Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis sebagai "londo ireng" saat menghadiri Harlah ke-28 PKB pada 23 Juli 2026.

Aksi yang berlangsung bersamaan dengan kegiatan Car Free Day (CFD) itu menyedot perhatian masyarakat. 

Sejumlah warga bahkan ikut memberikan dukungan dengan membubuhkan tanda tangan di atas selembar kain putih yang disiapkan peserta aksi.

Selain menyampaikan orasi, massa juga menggelar teatrikal sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah. 

Mereka mengenakan topeng bergambar wajah Presiden Prabowo Subianto, Ketua DPR Puan Maharani, dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad sebagai simbol sindiran terhadap dugaan kedekatan antara eksekutif dan legislatif.

Berbagai poster bernada protes turut dibentangkan. Di antaranya bertuliskan "Wowo Jurnalis Bukan Londo Ireng", "Kulit Kami Memang Ireng Tapi Bukan Londo Ireng", "Presiden Harus Minta Maaf", hingga "Mengungkap Fakta Bukan Dosa".

Salah seorang warga yang ikut memberikan dukungan, Moch Decky Apriadi, menilai aksi tersebut penting untuk menjaga kebebasan pers. 

Menurutnya, jurnalis memiliki peran vital menyampaikan fakta secara berimbang agar kehidupan demokrasi tetap berjalan sehat.

Koordinator aksi, Rizki Setyo Samudero, menegaskan SJB mengutuk keras pelabelan "londo ireng" yang disampaikan Presiden Prabowo. Menurutnya, pers merupakan benteng terakhir demokrasi di tengah melemahnya fungsi pengawasan lembaga legislatif.

Rizki menilai, serangan terhadap pers sama saja dengan melemahkan pertahanan masyarakat sekaligus menunjukkan sikap pemerintah yang anti kritik. 

Jurnalis DetikBali itu menegaskan bahwa pers bekerja untuk kepentingan publik, bukan untuk kepentingan pihak asing.

"Kritik dari pers dan masyarakat sipil bukanlah ancaman, melainkan cermin jujur dari kondisi publik yang membutuhkan perhatian sungguh-sungguh dari pemimpinnya," katanya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali
bali prabowo subianto jurnalis protes