RadarBuleleng.id – Belum usai teka-teki nasib proyek megah Bali Urban Subway usai ritual ngeruwak pada September 2024 lalu, Pemerintah Provinsi Bali kini justru melirik rencana baru.
Pada Selasa (1/9/2026), Pemprov Bali bersama Pemkab Badung dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) resmi menandatangani nota kesepakatan (MoU) pengembangan moda transportasi baru berupa trem listrik berbasis baterai rute Bandara I Gusti Ngurah Rai–Canggu sepanjang 12 kilometer.
Penandatanganan MoU itu dilakukan di Gedung Kertha Sabha Rumah Jabatan Gubernur Bali, pada Selasa (1/9/2026).
Proses penandatanganan dilakukan Gubernur Bali, Wayan Koster dengan Dirut PT KAI (Persero), Bobby Rasyidin, serta Bupati Badung, Wayan Adi Arnawa.
Langkah ini langsung memantik sorotan publik. Pasalnya, janji penanganan kemacetan kronis di kawasan Sarbagita lewat jaringan kereta bawah tanah (subway) hingga kini belum menunjukkan hilal pengerjaan fisik di lapangan, meski sudah genap dua tahun berlalu dari wacana awal.
Proyek Bali Urban Subway sebelumnya digadang-gadang sebagai jurus pamungkas kemacetan Bali di bawah kendali BUMD PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) bersama PT Bali Indah Prima (BIP).
Namun, sejak riuk seremonial ngeruwak di Central Parkir Kuta menjelang Pilkada 2024 lalu, kelanjutan proyek raksasa tersebut mendadak senyap.
Di tengah ketidakpastian proyek bawah tanah yang mangkrak tersebut, Pemprov Bali kini beralih mendukung opsi yang dinilai lebih realistis dan ramah lingkungan. Yakni trem listrik di atas permukaan jalan.
Berbeda dengan proyek subway yang memakan biaya fantastis, konsep trem listrik yang disepakati bersama PT KAI diklaim lebih adaptif dengan kearifan lokal.
Menggunakan baterai mandiri tanpa kabel udara, trem dirancang menyusuri koridor padat Bandara–Canggu dengan target mengangkut hingga 60 ribu penumpang per hari.
Dengan lebar trase sekitar 3 meter dan lebar gerbong 2 meter lebih, trem ini memiliki tingkat kebisingan sangat rendah dan berukuran lebih ramping dari bus kota.
Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan penanganan kemacetan tidak boleh lagi ditunda, dan konsep trem dinilai lebih konkret serta tidak mengganggu keasrian ekosistem pariwisata.
"Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan dan estetika Bali. Trem ini ditargetkan groundbreaking Maret 2027 dan mulai beroperasi bertahap pada 2028," ujar Wayan Koster, Selasa (1/9/2026).
Semetara itu Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyampaikan bahwa aspek budaya dan kelestarian lingkungan menjadi prioritas utama sejak tahap perencanaan teknis.
"Infrastruktur transportasi di Bali harus dikembangkan secara sangat hati-hati. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas, spiritualitas, dan harmoni Bali. Teknologi baterai kami pilih untuk meminimalisasi dampak lingkungan dan menjaga kenyamanan wisatawan," tegas Bobby Rasyidin.
Secara teknis, trem listrik ini akan beroperasi menggunakan dua jalur (double track) dengan area persilangan.
Memiliki waktu tempuh sekitar 30 menit dari Bandara ke Canggu serta headway (jeda keberangkatan) 10 menit, moda ini diproyeksikan mampu mengangkut 15 ribu hingga 20 ribu penumpang dalam sekali jalan.
Pada kondisi operasional puncak, trem ditargetkan mampu melayani hingga 60 ribu penumpang per hari. Kapasitas itu bisa mengakomodasi sekitar 40 persen total mobilitas harian di koridor Bandara–Canggu.
Berdasarkan garis waktu proyek, tahapan studi teknis, sosialisasi ke desa adat, serta koordinasi dengan pelaku industri hotel dan akomodasi akan berlangsung hingga akhir 2026.
Peletakan batu pertama (groundbreaking) ditargetkan pada Maret 2027, dengan uji coba trase pertama beroperasi pada 2028, dan penyelesaian seluruh jalur hingga Canggu pada 2029. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng