Tangkis Derasnya Hoaks di Medsos, Radar Bali Latih Jurnalis Manfaatkan AI untuk Cek Fakta

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 08:52 WIB
CEK FAKTA: Suasana pelatihan cek fakta yang melibatkan para jurnalis di Bali. (Miftahuddin M. Halim/Radar Bali)
CEK FAKTA: Suasana pelatihan cek fakta yang melibatkan para jurnalis di Bali. (Miftahuddin M. Halim/Radar Bali)

 

RadarBuleleng.id – Di tengah meluapnya disrupsi informasi dan maraknya kabar burung di media sosial, jurnalis dituntut tetap menjadi pemilah berita yang presisi. 

Menjawab tantangan tersebut, Radar Bali menggelar pelatihan jurnalistik bertajuk "Pemanfaatan Akal Imitasi (AI) untuk Cek Fakta Menjaga Kepercayaan Publik" di Quest Hotel, Denpasar, Sabtu (5/9/2026).

Pelatihan tersebut diikuti oleh puluhan insan pers lintas platform, mulai dari media cetak, online, televisi, hingga radio.

Pemimpin Redaksi Radarbali.id, Muhammad Ridwan mengungkapkan, akselerasi teknologi mewajibkan pers untuk terus bertransformasi tanpa kehilangan keandalan verifikasi.

"Sama halnya dengan media di Tiongkok yang mulai memanfaatkan AI, kita tidak boleh menggantungkan diri sepenuhnya pada mesin. Inti dari ilmu jurnalistik adalah bagaimana kita adaptif bertransisi dari era konvensional, digital, hingga era kecerdasan buatan," ujar Ridwan, Sabtu (5/9/2026).

Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, Emanuel Dewata Oja (Edo), menegaskan bahwa operasional AI di ruang redaksi telah dipayungi oleh Peraturan Dewan Pers Nomor 1/Peraturan-DP/I/2025.

Menurut Edo, penerapan AI pada pada dasarnya diperbolehkan selama tidak menerabas Kode Etik Jurnalistik (KEJ) maupun membahayakan kredibilitas karya pers dari ancaman jerat hukum.

"Jurnalis tidak boleh menjadi budak mesin. Karena satu karya jurnalistik bersinggungan dengan banyak rezim hukum, kita harus berhati-hati. Pelatihan ini memagari jurnalis dari potensi kesalahan, misinformasi, disinformasi, hingga efek gertakan (chilling effect)," tegas Edo.

Sementara itu, Praktisi dan Akademisi Media Digital, Ibnu Yunianto, memaparkan riset yang menunjukkan bahwa sebagian besar jurnalis saat ini mengandalkan media sosial sebagai bahan baku utama liputan, dengan persentase berkisar antara 62 hingga 94 persen.

Tingginya ketergantungan pada media sosial membuat risiko penyebaran hoaks makin mengintai jika tidak diimbangi proses verifikasi yang ketat.

"Kepercayaan publik adalah pertaruhan tertinggi bagi media. Instrumen AI seharusnya kita manfaatkan untuk mempermudah dan mempercepat cek fakta, bukan malah ketakutan peran manusia digantikan. AI dalam verifikasi fakta adalah benteng agar karya jurnalistik tetap presisi dan akurat," pungkas Ibnu. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
Berita Bali Hari Ini AI Jurnalistik Cek Fakta AI dewan pers radar bali