Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mahasiswa Indonesia dan Jepang Berkolaborasi, Selamatkan Sumber Air di Pedawa

Eka Prasetya • Kamis, 20 Maret 2025 | 01:29 WIB

 

KONSERVASI: Upaya konservasi kawasan hulu Desa Pedawa dengan penanaman pohon. Aksi tersebut melibatkan mahasiswa dari Indonesia dan Jepang.
KONSERVASI: Upaya konservasi kawasan hulu Desa Pedawa dengan penanaman pohon. Aksi tersebut melibatkan mahasiswa dari Indonesia dan Jepang.

BANJAR, RadarBuleleng.id - Mahasiswa dari Indonesia dan Jepang berkolaborasi melakukan upaya konservasi lingkungan di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali. 

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang (PBJ) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Universitas Iwate, serta komunitas lingkungan Kayoman Pedawa. 

Program kolaborasi konservasi lingkungan antar kedua negara ini, telah masuk tahun ketiga. Tahun ini, lebih dari 50 orang mahasiswa terlibat dalam kegiatan tersebut.

Program konservasi tersebut mengusung dua pendekatan utama, yaitu akademik dan non-akademik. 

Dalam ranah akademik, mahasiswa dari kedua universitas berpartisipasi dalam diskusi dan presentasi mengenai berbagai fenomena lingkungan, sosial, dan budaya. 

Sementara pada aspek non-akademik, para mahasiswa turun langsung ke lapangan dengan melakukan aksi nyata berupa penanaman pohon di Kayuan Mayung, Desa Pedawa.

Upaya konservasi ini bermula dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Perkumpulan Wanayana Kayoman Pedawa bersama Profauna Foundation. 

Mereka menemukan bahwa Desa Pedawa memiliki 85 titik sumber air, tetapi hanya 10 persen di antaranya yang tetap mengalir dengan baik selama musim kemarau. 

Penurunan debit air ini disebabkan oleh maraknya alih fungsi lahan untuk pertanian dan perkebunan, yang mengakibatkan banyak sumber air mengering di musim kemarau.

Desa Pedawa dikenal sebagai salah satu desa Bali Aga yang memiliki tradisi unik dalam penggunaan air untuk ritual adat. 

Berdasarkan kajian Sekolah Adat Manik Empul, setidaknya terdapat 33 jenis air suci yang digunakan dalam berbagai upacara adat desa tersebut. 

Oleh karena itu, pelestarian sumber air menjadi hal krusial bagi keberlangsungan tradisi dan kehidupan masyarakat setempat.

Sejak berdiri pada 6 Desember 2016, Komunitas Kayoman Pedawa telah aktif melakukan upaya konservasi air. 

Selain melakukan aksi penanaman pohon, Kayoman Pedawa ini juga mengedukasi masyarakat melalui kerja sama dengan Pondok Literasi Sabih dan Sekolah Adat Manik Empul. 

Mereka bahkan membuat film pendek bertema lingkungan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan satwa dan sumber daya air.

Penasehat Kayoman Pedawa, I Wayan Sadnyana mengatakan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah menanamkan kesadaran lingkungan di kalangan mahasiswa dan masyarakat Desa Pedawa. Melalui program ini, diharapkan generasi muda Pedawa semakin peduli terhadap kondisi lingkungan di desa mereka.

“Bagi mahasiswa, keterlibatan dalam proyek ini bukan sekadar pengalaman akademik, tetapi juga penguatan nilai-nilai sosial dan lingkungan. Selain itu, program ini menjadi ajang pembelajaran lintas budaya antara Indonesia dan Jepang, memperkaya wawasan kedua belah pihak dalam memahami isu-isu global,” ujar pria yang juga dosen Pendidikan Bahasa Jepang di Undiksha itu.

Asal tahu saja, kerjasama telah berlangsung sejak tahun 2023 lalu. Kerjasama bermula dari konservasi di Kayuan Gelunggang pada Maret 2023, dan berlanjut dengan program konservasi di Kayuan Sukajati pada Maret 2024. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#indonesia #bali #bali aga #jepang #bahasa jepang #mahasiswa #kolaborasi #lingkungan #Banjar #desa #kayoman pedawa #undiksha #PEDAWA #buleleng #Adat #konservasi