Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Cegah Stunting, Kemendukbangga Apresiasi Program Genting Pemkab Buleleng

Eka Prasetya • Rabu, 8 Oktober 2025 | 16:15 WIB

 

CEGAH STUNTING: Kader pencegahan stunting memantau kondisi kesehatan balita, dengan harapan kasus rawan stunting maupun kasus stunting dapat ditekan.
CEGAH STUNTING: Kader pencegahan stunting memantau kondisi kesehatan balita, dengan harapan kasus rawan stunting maupun kasus stunting dapat ditekan.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Langkah Pemkab Buleleng dalam menjalankan Program Genting (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting) mendapat apresiasi dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) Perwakilan Provinsi Bali. 

Pengakuan tersebut disampaikan saat kegiatan Monitoring dan Evaluasi Program Genting di Aula Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Buleleng, Selasa (7/10/2025).

Ketua Tim Kerja Genting Kemendukbangga Bali, Dewa Nyoman Dalem mengatakan, program Genting merupakan salah satu program unggulan yang digagas Kemendukbangga. 

Program ini mendorong masyarakat, lembaga swasta, dan pihak non pemerintah untuk ikut menjadi orangtua asuh bagi keluarga berisiko stunting (KRS).

“Kami sangat mengapresiasi langkah Pemkab Buleleng yang sudah mulai menggerakkan program Genting sejak awal 2025. Saat ini sudah ada sekitar 21 donatur yang aktif menjadi orangtua asuh dengan tingkat intervensi 4,3 persen,” ujar Dewa.

Menurutnya, pencegahan stunting tidak hanya soal pemberian gizi, tetapi juga menyangkut edukasi, perilaku hidup bersih, dan sanitasi lingkungan. 

Ia menegaskan bahwa stunting terjadi akibat kombinasi berbagai faktor, termasuk pola asuh yang kurang tepat.

“Seribu hari pertama kehidupan adalah masa paling penting. Di situ perlu intervensi gizi dan edukasi yang berkelanjutan. Karena penyebab stunting bukan hanya kekurangan gizi, tapi juga faktor lingkungan dan pola pengasuhan,” jelasnya.

Meski angka stunting di Bali tergolong rendah secara nasional, Dewa mengingatkan agar langkah pencegahan tetap diperkuat. 

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan pentahelix, yaitu kerja sama lintas unsur seperti  pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat, agar penanganan lebih efektif.

Sementara itu, Sekretaris DP2KBP3A Kabupaten Buleleng, Nyoman Suyasa, menjelaskan bahwa Program Genting di wilayahnya dijalankan dengan empat fokus utama yakni bantuan nutrisi, perbaikan sanitasi, akses air bersih, serta edukasi berkelanjutan.

“Tidak semua bantuan harus berupa materi. Edukasi tentang pola asuh, pola makan, hingga peningkatan ekonomi keluarga juga bagian dari intervensi Genting,” terangnya.

Suyasa menambahkan, hingga saat ini sudah ada 81 orangtua asuh yang bergabung dalam program tersebut. 

Dari jumlah itu, 21 di antaranya aktif memberikan bantuan langsung, sedangkan sisanya fokus pada pendampingan dan edukasi keluarga berisiko stunting.

Namun, jumlah tersebut masih jauh dari ideal. Berdasarkan data terakhir, terdapat lebih dari 17 ribu keluarga berisiko stunting di Kabupaten Buleleng, dengan sekitar 900 keluarga sudah teridentifikasi mengalami stunting.

“Artinya, kami masih butuh lebih banyak pihak untuk ikut bergabung. Stunting tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja, tapi harus dengan kolaborasi dan gotong royong lintas sektor,” pungkasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#keluarga berencana #bali #orangtua #kependudukan #program #keluarga #pemkab #stunting #evaluasi #gizi #buleleng #edukasi #anak