SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Laju inflasi di Kabupaten Buleleng naik tak terkendali. Inflasi Buleleng bahkan lebih tinggi dari laju inflasi nasional maupun laju inflasi provinsi Bali.
Sepanjang tahun 2023, laju inflasi nasional mencapai 2,61 persen. Sementara laju inflasi di Provinsi Bali sebesar 2,77 persen.
Anehnya laju inflasi di Buleleng sebesar 4,31 persen. Sedangkan laju inflasi di Kota Denpasar yang notabene ibu kota provinsi Bali, hanya 2,54 persen.
Pada tahun 2023, ada sejumlah komoditas yang memengaruhi inflasi di Singaraja. Komoditas yang dominan adalah beras, cabai rawit, dan cabai merah.
Kenaikan inflasi akhirnya berpengaruh pada kenaikan harga komoditas bahan pokok. Terutama beras, cabai, dan bawang.
Kenaikan harga komoditas bahan pokok, akan menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Ujungnya, akan timbul kemiskinan baru.
Kondisi itu membuat Pemerintah Kabupaten Buleleng uring-uringan. Pj. Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana menginstruksikan seluruh jajarannya kerja keras menangani inflasi tahun ini.
Meski begitu, Lihadnyana menyebut Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Buleleng sudah bekerja keras.
“TPID ini sudah bekerja maksimal untuk mengendalikan harga agar masyarakat Buleleng bisa terpenuhi kebutuhannya. Termasuk daya belinya terjaga,” ujar Lihadnyana.
Menurutnya pengendalian inflasi sangat penting. Sehingga harga komoditas bahan pokok terkendali. Pada akhirnya daya beli masyarakat bisa terjaga.
“Kalau harga lebih murah kan daya beli masyarakat bisa terjaga. Seperti itu. Komoditas-komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi itu memang benar-benar harus jadi perhatian yang serius,” kata dia.
Jadi, apa yang memicu inflasi di Buleleng menjadi lebih tinggi dari inflasi nasional dan provinsi? Lihadnyana mengklaim hal itu pengaruh dari jumlah komoditas yang diamati.
Sebagai perbandingan, di Kota Singaraja ada 296 jenis komoditas yang menjadi acuan survey inflasi. Sementara di Denpasar ada 401 jenis komoditas yang diamati.
Sebagai ilustrasi, kenaikan harga bahan pokok di Singaraja akan dibagi ke 296 jenis komoditas. Sementara di Denpasar, dibagi menjadi 401 jenis komoditas.
“Pembagi untuk perhitungan inflasi lebih sedikit Kota Singaraja daripada Kota Denpasar,” jelasnya.
Sepanjang tahun 2023, komoditas beras, cabai rawit, dan cabai merah menyumbang inflasi sebanyak 2 persen. Sedangkan komoditas yang sama hanya menyumbang inflasi 1 persen di Denpasar.
“Sedikit saja ada kenaikan harga dalam tiga komoditas tersebut, maka angka inflasi di Kota Singaraja jauh lebih tinggi. Meskipun secara fakta lapangan harga cabai rawit dan cabai merah di Kota Singaraja lebih murah dibandingkan di Kota Denpasar.” ungkap dia.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Buleleng, Made Bimbo Abdi Suardika mengatakan, BPS akan menambah komoditas yang digunakan untuk mengamati inflasi.
Pada tahun 2023 lalu, hanya ada 296 komoditas yang jadi acuan. Sedangkan tahun ini ada 327 komoditas yang masuk pengamatan.
Penentuan jumlah komoditas amatan mengacu pada Survei Biaya Hidup (SBH) pada tahun 2022 lalu. (*)
Editor : Eka Prasetya