RadarBuleleng.id - Bisnis ternak menjadi bisnis yang menjanjikan. Terutama bisnis ayam untuk kebutuhan upacara keagamaan.
Di Bali, ayam menjadi keperluan utama untuk keperluan upakara. Seperti ayam caru. Ayam ini biasanya digunakan untuk upacara bhuta yadnya.
Salah seorang peternak yang menggeluti bisnis ayam caru adalah I Ketut Lana. Pria yang bermukim di Banjar Taman, Desa Batuagung, Jembrana itu sudah menggeluti bisnis ternak ayam sejak 1981 silam.
Baca Juga: Puluhan Keluarga Miskin di Buleleng Dapat Bantuan Ayam Buras
Pria yang akrab disapa Tut Lana itu menuturkan, dirinya memulai usaha ternak ayam sejak tahun 1981. Awalnya ia hanya beternak ayam petelur dan ayam pedaging (broiler).
Belakangan ia menyadari masyarakat mencari ayam caru pada momen-momen tertentu. Sehingga pada 1985 ia mulai beternak ayam caru. “Akhirnya berlanjut sampai sekarang,” ungkapnya.
Khusus untuk ayam caru, dia hanya memelihara 100 ekor ayam. Biasanya ayam dibeli oleh kalangan griya, serati banten, serta warga sekitar yang memerlukan ayam untuk keperluan upacara.
“Bahkan ada dari luar daerah datang untuk membeli ayam caru disini,” ujar Lana sembari memperlihatkan ayam ternaknya.
Ia menyebut, pendapatan dari hasil menjual ayam caru cukup menjanjikan. Biasanya untuk ayam hidup ukuran kecil dijual seharga Rp 15.000 per ekor. Sementara untuk ayam yang sudah digoreng dan siap dihaturkan dalam bentuk bekakak, dijual Rp 50 ribu per ekor.
“Lumayan juga untuk tambah-tambah uang di rumah. Apalagi menjelang rainan,” katanya.
Baca Juga: Syukuran, Anggota DPRD Buleleng Ini Bagi-Bagi Ternak ke Pendukungnya
Meski terlihat menjanjikan, Lana menyebut biaya untuk memelihara ayam caru cukup besar. “Pakan ayam kini menjadi salah satu biaya terbesar. Saya harus pintar-pintar mengatur supaya usaha tetap berjalan dengan modal terbatas,” ujarnya.
Belum lagi penyakit yang menjangkiti ayam. Ayam rentan kena penyakit sasab atau CRD dan snot atau gangguan pernafasan. Penyakit itu mudah menjangkiti ayam dan cepat menyebar. Bila terlambat, bisa menyebabkan kematian.
Salah seorang serati banten, Ida Ayu Putu Sunartini menuturkan, dirinya memerlukan ayam caru cukup banyak pada momen hari tertentu.
Seperti saat hari purnama, tilem, anggara kasih, buda wage, tumpek, dan hari keagamaan lainnya.
“Kadang sulit dapat ayam caru, apalagi yang berumbun (bulunya terdapat lima warna). Seperti untuk sarana upakara, seperti banten caru,” kata wanita yang juga Jro Mangku Istri di Pura Puseh Desa Adat Batuagung, Jembrana itu.
Terpisah, Kelian Adat Banjar Taman Desa Batuagung, Ida Kade Perdana mengatakan, usaha yang digeluti krama-nya sangat mempermudah masyarakat. Terutama untuk pemenuhan sarana upakara.
“Sangat penting untuk sarana upakara. Karena tujuannya kan untuk nyomia bhuta kala. Kalau tidak ada ayam caru, tentu kurang lengkap. Makanya usaha ini sangat membantu, biar tidak sulit cari ayam,” demikian Ida Perdana. (kontributor: Ni Made Dwi Hendrika Irmanita)
Editor : Eka Prasetya