RadarBuleleng.id - Siapa sangka tumpukan botol plastik yang sering dianggap sebagai limbah berbahaya, justru menjadi ladang penghasilan bagi pasangan suami istri Ketut Arta Wijaya dan Ni Luh Sukenadi.
Pasangan asal Desa Sobangan Tengah, Kecamatan Mengwi, Kecamatan Badung, Bali ini membuktikan, sampah juga bisa menjadi pundi-pundi rejeki.
Bagi sebagian masyarakat, sampah botol plastik dianggap tidak berharga. Tapi Arta Wijaya dan Luh Sukenadi membuktikan sebaliknya.
Berbekal ketekunan dan kegigihan, mereka membuktikan bahwa mengelola sampah juga menjadi sumber penghasilan. Bahkan bisa menjadi lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Arta Wijaya merintis usaha tersebut sejak 2011 silam. Motivasinya berawal dari rasa gundah dalam diri, karena botol plastik berserakan di mana-mana.
Bersama sang istri, ia mulai mengumpulkan sampah plastik. Utamanya kemasan botol dan gelas plastik. Lama kelamaan, mereka membuka bank sampah kecil-kecilan untuk menampung sampah yang dibawa warga.
“Awalnya saya malu. Tapi saya berpikir, daripada menganggur, lebih baik bekerja walau hanya memungut sampah,” ujar Arta saat ditemui di tempat usahanya beberapa waktu lalu.
Waktu terus bergulir, bisnis sampah yang dikelola pasutri ini semakin berkembang. Dari bank sampah, usaha mereka berkembang menjadi gudang pengepul dan pengolahan botol plastik bekas.
Kini sampah plastik terus berdatangan. Bukan hanya dari warga. Tapi juga dari gudang rongsokan dan TPA terdekat.
Bahkan dalam sehari, gudang yang mereka kelola bisa menerima kiriman sampah botol plastik bekas sebanyak satu ton dalam setahun.
Biasanya sampah yang masuk akan terparkir selama 4-5 hari di gudang yang dikelola Arta Wijaya. Waktu selama itu digunakan untuk memilah sampah-sampah yang siap dijual.
Prosesnya cukup panjang. “Awalnya dikumpulkan dulu. Dari rumah tangga, sekolah, fasilitas umum, atau langsung dari pemulung dan pengepul,” ujarnya.
Selanjutnya pemilihan dimulai. Botol plastik dipilah berdasarkan jenis plastik, warna, dan tingkat kebersihannya. Arta menyebut tahapan ini merupakan proses yang sangat penting. Karena akan berdampak terhadap kualitas hasil akhir daur ulang.
Botol yang telah dipilah kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran, sisa minuman, label, dan tutup botol. Setelah bersih, botol-botol tersebut diproses melalui mesin pencacah untuk dipotong menjadi serpihan kecil yang disebut flake.
Flake yang dihasilkan kemudian dikeringkan agar bebas dari kandungan air sebelum masuk ke tahap peleburan. Pada tahap ini, serpihan plastik dilelehkan pada suhu tinggi untuk dibentuk menjadi butiran plastik (pelet) yang siap dijadikan bahan baku produk baru.
Hasil akhir dari proses ini bisa digunakan untuk membuat berbagai produk daur ulang seperti botol baru, pot bunga, ember, serat tekstil, atau bahan bangunan ramah lingkungan.
Proses ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah plastik, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan penghematan sumber daya alam.
“Saya ingin membuktikan bahwa sampah bisa bernilai, asal kita mau bekerja keras dan peduli terhadap lingkungan,” imbuhnya.
Kegigihan Arta bergelut dengan sampah selama belasan tahun mulai berdampak. Namanya tak pernah luput dari perhatian pemerintah daerah. Dia kerap diundang sebagai narasumber dalam pelatihan pengelolaan sampah dan wirausaha berbasis lingkungan.
Berkat kerja keras dan kepeduliannya, Arta Wijaya dan sang istri membuktikan bahwa sesuatu yang kotor dan dianggap remeh seperti sampah bisa menjadi berkah yang luar biasa. (Penulis: I Gede Duta Marandita)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya