Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Disperindag Bali Intensifkan Pengawasan, Dampak Merebaknya Beras Oplosan

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 17 Juli 2025 | 16:41 WIB

 

Pedagang beras Pasar Ngemplak, Tulungagung sedang menimbang barang dagangannya.
Pedagang beras Pasar Ngemplak, Tulungagung sedang menimbang barang dagangannya.

RadarBuleleng.id – Munculnya isu beras oplosan kembali menghebohkan publik. Terlebih setelah Kementerian Pertanian (Kementan) merilis daftar 212 merek beras yang diduga oplosan atau tidak sesuai dengan klaim mutu. 

Menyikapi hal tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali langsung turun tangan melakukan pengawasan di lapangan.

Kepala Disperindag Bali, I Gusti Ngurah Wiryanata mengatakan, pihaknya terus mengintensifkan pemantauan terhadap peredaran beras di pasar rakyat, pasar modern, hingga warung-warung tradisional.

“Astungkara, sejauh ini belum ditemukan adanya beras oplosan di Bali. Kami juga belum menerima laporan dari masyarakat terkait hal itu,” katanya.

Menurutnya, pengawasan bukan hanya dilakukan oleh Disperindag. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali juga memiliki tim khusus yang bertugas memantau kualitas dan keaslian beras yang beredar di pasaran.

“Di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, sudah ada tim pengawasnya sendiri. Jadi pengawasan ini sifatnya lintas sektor,” ujar pria yang juga pernah menjabat Kepala Badan Kesbangpol Bali itu.

Ngurah menjelaskan, ada ciri-ciri umum beras oplosan yang perlu diwaspadai masyarakat. Salah satunya adalah bau tidak biasa saat kemasan beras dibuka, seperti bau kimia atau aroma yang menyengat. 

Selain itu, tekstur beras oplosan biasanya terasa terlalu licin atau terlalu kering. Berbeda dengan beras asli yang memiliki tekstur sedikit berdebu karena masih mengandung sisa dedak.

“Kalau baunya aneh dan teksturnya terlalu halus, sebaiknya dihindari,” imbaunya.

Namun, ia mengakui identifikasi dari kemasan cukup sulit. Perbedaan paling mencolok baru bisa terlihat saat beras dikeluarkan dari kemasannya.

“Kalau hanya lihat dari kemasan, memang agak susah. Harus dicek langsung dari bau dan tekstur berasnya,” jelasnya.

Masyarakat yang mencurigai adanya beras oplosan diminta segera melapor ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) melalui Bidang Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Disperindag Bali.

Sebagai informasi, sebelumnya telah ditemukan 13 merek beras diduga oplosan yang beredar di indonesia. Merek-merek tersebut sudah ditarik dari pasaran dan sedang diuji laboratorium. 

Di antaranya adalah Sovia, Fortune, Siip, Raja Ultima, Raja Platinum, Alfamidi Setra Pulen, Beras Premium Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, Food Station, Ramos Premium, Setra Pulen, Setra Ramos, dan Ayana. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #disperindag #bau #oplosan #pasar #pangan #pertanian #perdagangan #beras #beras oplosan #kimia #aroma