Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Segiri Kopi: Inovasi Fermentasi yang Angkat Derajat Robusta Buleleng

Eka Prasetya • Jumat, 29 Agustus 2025 | 12:00 WIB

 

ROBUSTA MENDUNIA: Wayan Wardana (kiri) menunjukkan produk kopi segiri yang ia hasilkan. Lewat produk itu ia ingin menunjukkan bahwa kopi robusta tak kalah dengan kopi arabika.
ROBUSTA MENDUNIA: Wayan Wardana (kiri) menunjukkan produk kopi segiri yang ia hasilkan. Lewat produk itu ia ingin menunjukkan bahwa kopi robusta tak kalah dengan kopi arabika.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Dari Desa Sepang di dataran tinggi Kabupaten Buleleng, Bali, lahir sebuah terobosan yang perlahan mengubah wajah kopi robusta. 

Wayan Wardana, 58, penggiat kopi asal desa ini, memperkenalkan Segiri Kopi. Kopi ini merupakan hasil eksperimen fermentasi unik yang berupaya menghapus stigma lama bahwa robusta hanyalah “kopi kelas dua”.

Sejak abad ke-19, Buleleng dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi di Bali. Perkebunan robusta tumbuh subur di Sepang, Gitgit, hingga Wanagiri. 

Namun, perjalanan panjang robusta tak selalu mulus. Rasa pahit yang pekat membuatnya sering dipandang sebelah mata dibanding arabika Kintamani yang lebih asam, segar, dan diminati pasar internasional. 

Padahal, bagi masyarakat desa, robusta adalah teman setia di ladang, penghangat tubuh di pagi buta, sekaligus penopang penghidupan.

Wardana ingin mengubah pandangan itu. “Selama ini robusta hanya dianggap kopi murahan, padahal ada potensi besar. Saya ingin membuktikan bahwa robusta juga bisa punya rasa yang halus dan berkelas,” ujarnya.

Dari niat itu lahirlah Segiri Kopi, nama yang ia ambil dari gabungan Sepang dan Wanagiri—dua daerah dengan karakter rasa berbeda. 

Sepang yang pahit dan Wanagiri yang asam ia satukan dalam filosofi secangkir kopi. 

Hasilnya, robusta menghadirkan sisi baru. Rasanya lebih kompleks, lebih halus, namun tetap dengan identitas khasnya.

Proses yang dijalani Wardana jauh dari sekadar menyangrai dan menggiling biji kopi. 

Ia bereksperimen dengan fermentasi dua cara. Yakni enzim rayap untuk fermentasi anaerob (tertutup tanpa udara) dan ragi tempe untuk fermentasi aerob (terbuka dengan udara).

Biji robusta pilihan dibiarkan berfermentasi 1–3 hari. Fermentasi satu hari menghasilkan rasa lebih ringan, sementara dua hingga tiga hari menghadirkan sensasi asam lebih kuat, mendekati karakter arabika. 

“Kalau satu hari, robustanya jadi lebih lembut. Kalau tiga hari, asamnya keluar. Jadi konsumen bisa memilih sesuai selera,” jelas Wardana.

Produksi Segiri Kopi masih terbatas. Dari lima kilogram biji robusta, hanya 3–3,5 kilogram bubuk kopi yang dihasilkan. 

Produk dijual Rp 25 ribu per 100 gram atau Rp 250 ribu per kilogram. Meski sederhana, peminatnya mulai bermunculan, bahkan ada yang memesan fermentasi khusus sesuai selera.

Wardana sadar perjuangan ini masih panjang. Ia sudah mendaftarkan Segiri Kopi sebagai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk melindungi karya. 

Uji laboratorium terkait manfaat kesehatannya masih menunggu hasil. Namun, ia yakin fermentasi ini bisa menjadi jalan baru bagi robusta Buleleng.

“Saya tidak bermimpi terlalu tinggi, tapi saya yakin kalau robusta bisa mendekati rasa arabika, harganya juga bisa naik. Itu artinya petani tidak lagi merasa tertinggal,” imbuhnya.

Segiri Kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah cerita tentang keberanian bereksperimen, tekad melawan stigma, dan harapan baru bagi petani Buleleng. (*)

 

Editor : Eka Prasetya
#bali #wanagiri #kintamani #kopi #sepang #arabika #stigma #desa #robusta #enzim #buleleng #Fermentasi