RadarBuleleng.id - Pemerintah Indonesia dan China sepakat memperpanjang jangka waktu atau tenor utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) menjadi 60 tahun.
Kesepakatan restrukturisasi tersebut dicapai melalui pembicaraan antara Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu) dan pemerintah Tiongkok.
Perpanjangan tenor dianggap sebagai solusi untuk menurunkan beban pembayaran tahunan proyek yang sebelumnya dinilai cukup berat bagi Indonesia.
Dengan skema baru, beban pembayaran diperkirakan hanya sekitar Rp 2 triliun per tahun, sementara pendapatan operasional Whoosh mencapai kisaran Rp 1,5 triliun.
Restrukturisasi tersebut bukan penghapusan utang, melainkan perubahan mekanisme pembayaran agar proyek strategis nasional tersebut tetap beroperasi tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Langkah itu juga dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia dan China memasuki fase kemitraan ekonomi yang lebih matang dan berorientasi pada keberlanjutan.
Pemerintah China melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan respons tegas terkait restrukturisasi ini.
Beijing menekankan bahwa proyek WHOOSH tidak hanya diukur dari sisi keuntungan finansial, tetapi juga dari manfaat sosial dan ekonomi yang dihasilkan.
“Proyek ini tidak semata tentang profit, melainkan tentang pembangunan bersama yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” demikian pernyataan resmi pihak China.
China juga menegaskan komitmen untuk terus bekerja sama dengan Indonesia agar operasional Whoosh berjalan lancar dan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, kesepakatan restrukturisasi ini menjadi langkah strategis dalam menjaga stabilitas fiskal sekaligus memastikan keberlanjutan proyek yang telah menjadi simbol kemajuan infrastruktur nasional.
“Dengan perpanjangan tenor, tekanan terhadap APBN berkurang, sementara proyek tetap bisa memberi manfaat ekonomi,” ujar seorang pejabat Kemenkeu.
Selain mengurangi beban fiskal, restrukturisasi utang 60 tahun ini juga membuka peluang untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral di masa depan.
Proyek WHOOSH kini dipandang bukan hanya sebagai proyek transportasi modern, tetapi juga sebagai bukti konkret kemitraan strategis antara dua negara besar di Asia. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya