Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Peternak Babi Bali Minta Impor Dihentikan, Harga Anjlok dan Ancaman Penyakit Menghantui

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 20 Februari 2026 | 12:38 WIB

 

TERNAK BABI: Babi di kandang salah seorang peternak di Bali.
TERNAK BABI: Babi di kandang salah seorang peternak di Bali.

RadarBuleleng.id - Peternak babi di Bali mendesak pemerintah menghentikan impor babi dari luar daerah. 

Mereka menilai kebijakan tersebut memperparah tekanan yang sudah dirasakan akibat turunnya harga jual dan ancaman penyakit yang belum sepenuhnya tertangani.

Ketua Umum BPD HIPMI Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, atau yang akrab disapa Ajus Linggih, menyampaikan langsung aspirasi tersebut kepada Menteri Pertanian RI dalam Sidang Dewan Pleno HIPMI di Makassar, Minggu (15/2/2026). Ia menyoroti kondisi peternak lokal yang kian terjepit.

"Kami meminta agar impor babi dihentikan karena harga saat ini sedang menurun. Di samping itu, peternak babi merasa dianaktirikan karena sulitnya mendapatkan vaksin ASF," ungkapnya saat dikonfirmasi baru-baru ini.

Menurut pria asal Buleleng itu, masuknya babi dari luar daerah membuat harga di tingkat peternak Bali semakin tertekan. 

Padahal, populasi babi di Bali terus meningkat dan kini mencapai sekitar 1,2 juta ekor. Komoditas ini memiliki peran penting, baik secara ekonomi maupun dalam mendukung kebutuhan upacara adat di Bali.

Di sisi lain, perlindungan kesehatan ternak babi dinilai belum optimal. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mengakui babi merupakan hewan yang sangat rentan terhadap penyakit.

Baru-baru ini, tim Dinas Pertanian menemukan 30 ekor babi terserang kolera di Buleleng. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut berpotensi meluas.

"Karakteristik babi ini berbeda dengan hewan lain. Jika tidak ditangani dengan baik, kasus 30 ekor tersebut bisa memicu kematian massal," ujarnya.

Ancaman yang lebih besar datang dari African Swine Fever (ASF), virus mematikan yang menyebar cepat dan pernah menyebabkan kematian massal babi beberapa tahun lalu. Hingga kini, vaksin ASF belum tersedia secara luas.

Sunada menyebut pihaknya bersama DPRD Bali telah mengusulkan pengadaan vaksin ASF ke Kementerian Pertanian dan telah mendapat respons positif. 

Namun di tengah ancaman penyakit tersebut, peternak berharap pemerintah juga melindungi pasar lokal dari tekanan pasokan luar daerah. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #babi #peternak #kolera #Ajus Linggih #ASF #hipmi #impor #harga #buleleng #penyakit #ekonomi #vaksin