SINGARAJA, RadarBuleleng.id - DPRD Buleleng mendorong pemerintah daerah untuk meninjau ulang tarif retribusi Rumah Potong Hewan (RPH) yang dinilai masih terlalu rendah.
Kenaikan tarif dianggap penting sebagai langkah mendukung peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus menyesuaikan dengan peningkatan kualitas layanan.
Anggota DPRD Buleleng, Made Suarsana, mengungkapkan tarif pemotongan hewan saat ini belum mencerminkan nilai layanan yang diberikan.
Saat ini tarif potong hewan untuk sapi dan kerbau jantan sebesar Rp 17.500 per ekor, sementara betina Rp 30.000 per ekor. Selanjutnya kambing Rp 7.500 per ekor dan babi Rp 10.500 per ekor.
“Walau ini tidak terlalu signifikan pengaruh terhadap pendapatan daerah, saya usul ini agar dinaikkan tarifnya,” ujarnya.
Menurutnya, rencana peningkatan kualitas dan kuantitas layanan RPH ke depan perlu diimbangi dengan penyesuaian tarif agar lebih realistis.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Buleleng, Gede Melandrat, mengakui bahwa tarif retribusi RPH saat ini memang relatif rendah, khususnya untuk layanan di wilayah perkotaan Singaraja yang terpusat di Desa Panji Anom.
Ia menjelaskan, saat ini Buleleng baru memiliki satu RPH aktif, padahal idealnya terdapat minimal tiga unit untuk menjangkau wilayah yang lebih luas.
“Di Buleleng saat ini hanya ada satu. Semestinya minimal ada tiga, satu di Gerokgak, satu di Seririt, dan satu lagi di wilayah perkotaan. Ini tentu akan berdampak pada peningkatan PAD,” jelasnya.
Ia menegaskan, karena RPH merupakan layanan publik, pihaknya berharap ke depan ada revisi tarif retribusi seiring peningkatan kualitas fasilitas dan layanan.
“Karena ini sifatnya layanan, kami berharap tahun depan ada revisi atas nilai retribusi bisa ditambah. Apalagi akan ada perubahan layanan yang lebih baik dari sekarang,” ujarnya.
Selain itu, Melandrat juga menyoroti keterbatasan fasilitas pemotongan hewan di Buleleng.
Saat ini, fasilitas khusus yang tersedia baru RPH ayam di wilayah Sanggalangit. Ke depan, pihaknya berharap dapat dikembangkan RPH khusus untuk komoditas lain seperti babi.
“Perlu juga disiapkan RPH khusus babi. Kami berharap ke depan terus didukung untuk meningkatkan PAD daerah,” pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya