Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Jelang Idul Adha, Pengiriman Sapi Bali dari Buleleng Melonjak Tajam. Tapi Harga Stagnan

Eka Prasetya • Minggu, 10 Mei 2026 | 12:26 WIB
Sapi Bali
Sapi Bali

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Menjelang Hari Raya Idul Adha, pengiriman sapi Bali dari Kabupaten Buleleng, Bali, mengalami lonjakan signifikan. 

Peningkatan permintaan terutama datang dari Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban saat Lebaran Haji.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distankan) Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan lonjakan pengiriman sapi sebenarnya sudah diprediksi para peternak karena momentum Idul Adha selalu meningkatkan kebutuhan pasar.

“Memang terjadi lonjakan dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan saat Idul Adha atau Lebaran Haji. Tetapi peternak juga sudah tahu harinya, mudah-mudahan ini bisa memberikan rezeki kepada para peternak,” ujarnya.

Berdasarkan data Distankan Buleleng, pengiriman sapi pada Januari tercatat sebanyak 782 ekor, Februari 610 ekor, Maret 1.120 ekor, dan melonjak drastis pada April mencapai 9.870 ekor. Sementara hingga awal Mei, pengiriman tercatat sebanyak 200 ekor.

Sebagian besar sapi Bali asal Buleleng dikirim ke Pulau Jawa, terutama untuk memenuhi kuota kebutuhan Perumda Dharma Jaya Jakarta. Selain itu, sebagian kecil pengiriman juga dilakukan ke Makassar.

“Selain dikirim ke Jawa, untuk memenuhi kuota Perumda Dharma Jaya Jakarta. Karena untuk memenuhi permintaan Dharma Jaya saja masih kurang. Sebagian kecil itu ke Makassar,” jelasnya.

Meski permintaan meningkat tajam, Melandrat mengungkapkan harga sapi di tingkat peternak belum mengalami kenaikan signifikan. 

Saat ini harga sapi hidup di tingkat petani masih berada di kisaran Rp 45 ribu per kilogram.

“Di tingkat petani itu masih di titik termurah, tapi kalau di pasar sampai jadi bakso tetap saja harganya mahal. Tapi di petani masih tetap murah di harga Rp 45 ribu per kilogram hidup. Jadi tidak ada kenaikan,” katanya.

Ia juga menyoroti adanya perbedaan harga antara sapi jantan dan betina di tingkat peternak. 

Sapi betina disebut memiliki harga lebih rendah, meskipun ketika sudah menjadi daging di pasaran, harga jualnya relatif sama.

“Bahkan di petani ada perbedaan antara jantan dan betina, kalau yang betina lebih murah lagi. Padahal kalau sudah jadi daging, itu harganya antara jantan dan betina sama,” imbuhnya.

Melandrat memastikan kondisi kesehatan ternak saat ini relatif aman karena kasus penyakit mulut dan kuku maupun Lumpy Skin Disease (LSD) sudah tidak ditemukan lagi di Buleleng. 

Ia mengingatkan agar distribusi ternak dari luar daerah tetap diawasi ketat guna mencegah munculnya kembali wabah penyakit.

“Sekarang sudah tidak ada LSD, waktu itu harganya malah anjlok lagi. Mudah-mudahan tidak ada distribusi dari daerah lain, karena hal ini yang rentan memicu ledakan penyakit,” tegasnya.

Untuk mencegah penyebaran penyakit hewan, Distankan Buleleng menerapkan prosedur ketat sebelum pengiriman sapi dilakukan. 

Setiap ternak wajib melalui pemeriksaan kesehatan dan mengantongi rekomendasi veteriner atau dokter hewan.

“Untuk mencegah penyakit, kami ada SOP sebelum pengiriman itu wajib ada rekomendasi dari veteriner. Kalau memang sehat, bisa dibawa keluar,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#hari raya #sapi bali #idul adha #buleleng