Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mimih! Menjelang Galungan, Harga Cabai Rawit di Buleleng Tembus Rp 90 Ribu per Kilo. Omzet Pedagang Terjun Bebas

Francelino Junior • Minggu, 14 Juni 2026 | 19:18 WIB
NAIK TINGGI: Komoditas cabai melonjak saat tahun baru di Buleleng. Harga cabai diprediksi akan semakin tinggi beberapa bulan kedepan.
NAIK TINGGI: Komoditas cabai melonjak saat tahun baru di Buleleng. Harga cabai diprediksi akan semakin tinggi beberapa bulan kedepan.

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional di Buleleng mulai mengalami lonjakan menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. 

Di Pasar Banyuasri, Singaraja, harga komoditas pedas tersebut kini telah menyentuh Rp 90 ribu per kilogram dan diperkirakan masih berpotensi naik hingga Rp 100 ribu per kilogram dalam beberapa hari ke depan.

Kenaikan harga mulai dirasakan pedagang sejak sepekan terakhir. Sebelumnya, cabai rawit merah masih diperdagangkan di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram. 

Namun meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang hari raya membuat harga terus merangkak naik.

Pedagang sayur dan bumbu di Pasar Banyuasri, Kadek Desi, mengatakan tren kenaikan harga biasanya berlangsung hingga perayaan Kuningan.

“Sekarang sudah Rp 90 ribu per kilo. Bahkan kemungkinan bisa naik lagi sampai Rp 100 ribu per kilo. Biasanya harga seperti ini bertahan sampai Kuningan,” ujarnya.

Tak hanya cabai rawit, sejumlah kebutuhan dapur lainnya juga mengalami kenaikan harga. Tomat yang sebelumnya dijual sekitar Rp 12 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp 20 ribu per kilogram.

Harga bawang merah bahkan melonjak cukup tajam dari Rp 35 ribu menjadi Rp 50 ribu per kilogram. Sementara bawang putih ikut naik dari Rp 30 ribu menjadi Rp 40 ribu per kilogram.

Menurut Desi, kenaikan harga bawang dipicu berkurangnya pasokan yang masuk ke pasar Bali. 

Sebagian besar hasil panen bawang dari kawasan Kintamani disebut dikirim ke Pulau Jawa sehingga stok yang tersedia di Bali menjadi lebih terbatas.

“Pasokan bawang dari Bali banyak dikirim ke Jawa. Karena barang yang tersedia lebih sedikit, harga otomatis naik,” katanya.

Di tengah lonjakan sejumlah komoditas tersebut, harga cabai besar justru menunjukkan tren berbeda. 

Komoditas ini turun dari Rp 60 ribu menjadi Rp 50 ribu per kilogram. Sedangkan harga cabai keriting masih relatif stabil di angka Rp 50 ribu per kilogram.

Kenaikan harga bumbu dapur mulai berdampak pada pola belanja masyarakat. Konsumen kini cenderung mengurangi jumlah pembelian karena harga yang semakin mahal.

Desi mencontohkan, jika sebelumnya uang Rp 9 ribu sudah cukup untuk membeli seperempat kilogram bawang merah, kini masyarakat harus merogoh kocek Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu untuk mendapatkan jumlah yang sama.

Situasi tersebut turut memengaruhi omzet pedagang. “Omzet turun sekitar 50 persen. Dulu menjelang Galungan, bawang merah 20 kilogram bisa habis dalam sehari. Sekarang stok 10 kilogram saja belum tentu habis sampai pasar tutup,” ungkapnya.

Menurut Desi, melemahnya daya beli masyarakat tidak hanya dipengaruhi kenaikan harga bahan pokok. 

Berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya, termasuk biaya pendidikan menjelang tahun ajaran baru, juga membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Buleleng, Dewa Made Sudiarta, memastikan stok kebutuhan pokok di Buleleng masih dalam kondisi aman meski beberapa komoditas mengalami kenaikan harga.

Pihaknya terus melakukan pemantauan bersama distributor, agen, dan pengelola pasar guna memastikan pasokan tetap tersedia menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Menurut Sudiarta, cabai menjadi komoditas yang paling rentan mengalami fluktuasi harga. 

Kendati demikian, kenaikan yang terjadi saat ini masih dinilai wajar dan belum mengganggu ketersediaan barang di pasaran.

“Kami akan mengoptimalkan pemantauan menjelang Galungan. Operasi pasar dan pasar murah juga disiapkan untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan stok kebutuhan pokok tetap tersedia bagi masyarakat,” kata Sudiarta.

Untuk mengantisipasi lonjakan harga yang lebih tinggi, Pemerintah Kabupaten Buleleng bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga berencana melakukan inspeksi pasar dalam sepekan ke depan. 

Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#omzet #pasar #cabai #harga #buleleng