SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Realisasi penerimaan pajak daerah di Kabupaten Buleleng hingga pertengahan 2026 masih jauh dari target.
Memasuki akhir Semester I, pendapatan yang berhasil dikumpulkan baru mencapai Rp 164,89 miliar atau 36,66 persen dari target tahunan sebesar Rp 449,76 miliar.
Meski belum menembus separuh target, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Buleleng mencatat sejumlah sektor mulai menunjukkan tren positif.
Beberapa jenis pajak mampu melampaui target kinerja Triwulan II. Namun, sektor lain masih tertinggal sehingga menjadi fokus evaluasi pada Semester II.
Kepala Bapenda Buleleng, Ida Bagus Perang Wibawa, mengatakan realisasi tersebut merupakan akumulasi penerimaan seluruh jenis pajak daerah beserta opsen pajak hingga 30 Juni 2026.
Dari kelompok Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT), pajak restoran masih menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi kas daerah. Hingga akhir Juni, penerimaannya mencapai Rp 23,46 miliar atau 41,90 persen dari target Rp 56 miliar.
Kontribusi besar juga datang dari PBJT Tenaga Listrik dengan realisasi Rp 29,35 miliar atau 41,92 persen dari target Rp 70 miliar.
Sementara secara persentase, capaian terbaik justru diraih PBJT Jasa Parkir yang telah mencapai 53,05 persen atau Rp 265,26 juta dari target Rp 500 juta.
Di sisi lain, sejumlah sektor belum menunjukkan performa yang diharapkan. Pajak hotel baru terealisasi Rp 23,32 miliar atau 33,31 persen dari target Rp 70 miliar.
Kondisi serupa terjadi pada PBJT Jasa Kesenian dan Hiburan yang baru menyumbang Rp 2,49 miliar atau 33,26 persen dari target Rp 7,5 miliar.
Beberapa objek pajak lainnya bahkan masih mencatat realisasi yang relatif rendah. Pajak Air Tanah baru mencapai Rp 740 juta atau 24,67 persen dari target Rp 3 miliar.
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) terealisasi Rp 6,87 miliar atau 22,89 persen dari target Rp 30 miliar.
Sementara Pajak Reklame baru menghasilkan Rp 1,42 miliar atau 12,94 persen dari target Rp 11 miliar.
Capaian paling rendah terjadi pada Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB). Hingga akhir Juni, penerimaannya baru Rp 2,61 juta atau belum mencapai satu persen dari target Rp 500 juta.
Perang Wibawa mengatakan pihaknya terus melakukan evaluasi terhadap sektor-sektor yang realisasinya masih rendah. Berbagai langkah optimalisasi dan inovasi juga disiapkan agar penerimaan pajak dapat meningkat pada semester kedua.
“Yang masih belum maksimal kami evaluasi dan coba cari solusi serta inovasinya. Tetapi kami tetap optimistis bisa memaksimalkan capaian hingga akhir tahun ini,” ujarnya.
Selain pendapatan dari pajak daerah, tahun ini Pemerintah Kabupaten Buleleng juga memperoleh tambahan penerimaan melalui skema opsen pajak yang dikelola bersama Pemerintah Provinsi Bali, yakni Opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Opsen Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).
Hingga akhir Juni, realisasi Opsen PKB telah mencapai Rp 25,48 miliar atau 39,79 persen dari target Rp 64,04 miliar.
Sedangkan Opsen BBNKB menyumbang Rp 24,12 miliar atau 36,15 persen dari target Rp 66,71 miliar.
Perang Wibawa optimistis target pendapatan daerah masih dapat dikejar pada Semester II.
Menurutnya, peningkatan aktivitas ekonomi, khususnya sektor pariwisata dan perdagangan, diharapkan mampu mendongkrak penerimaan pajak.
Di sisi lain, Bapenda juga akan terus mengoptimalkan intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan pajak daerah agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai hingga akhir tahun. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya