SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Di tengah gempuran produksi garam modern yang serba mesin, masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, masih setia mempertahankan cara-cara tradisional yang diwariskan turun-temurun selama puluhan tahun.
Dari pesisir desa inilah lahir garam khas Bali yang kini tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar internasional.
Hamparan pantai yang membentang di Desa Les bukan sekadar destinasi wisata. Bagi sebagian warga, kawasan pesisir tersebut menjadi sumber penghidupan yang telah dijaga lintas generasi.
Selain melaut sebagai nelayan, banyak warga menggantungkan hidup sebagai petani garam tradisional.
Keunikan garam Les terletak pada proses produksinya yang masih mengandalkan tenaga manusia tanpa bantuan mesin.
Air laut, sinar matahari, dan keterampilan para petani menjadi tiga unsur utama yang menentukan kualitas garam yang dihasilkan.
Perbekel Desa Les, Gede Adi Wistara, mengatakan tradisi pembuatan garam di wilayahnya telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Seiring berkembangnya sektor pariwisata dan meningkatnya perhatian terhadap produk lokal, potensi garam tradisional tersebut kembali bangkit setelah sempat mengalami masa-masa sulit.
“Potensi itu kami bangkitkan. Dulu harga garam sangat murah bahkan terkesan tidak memiliki nilai. Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik dan kembali bergeliat,” ujarnya.
Berbeda dengan garam pada umumnya, garam Les di pesisir timur Kabupaten Buleleng, memiliki karakteristik tersendiri.
Bentuk kristalnya cenderung berbeda karena dipengaruhi metode produksi tradisional yang masih dipertahankan hingga saat ini.
Proses pembuatannya dimulai dengan mengambil air laut yang kemudian disiramkan ke petak-petak tanah khusus untuk mempercepat penguapan.
Setelah melalui proses tertentu, air laut yang telah mengalami penyaringan dimasukkan ke dalam wadah berbentuk kerucut.
Wadah tersebut kemudian ditempatkan di atas batang kelapa yang dibentuk menyerupai palung perahu.
Dari sinilah air hasil penyaringan kembali dijemur hingga perlahan mengkristal menjadi garam.
Media tradisional yang digunakan selama proses produksi diyakini menjadi salah satu faktor yang membentuk cita rasa khas garam Les.
Karakter inilah yang membuat produk garam dari desa pesisir di Tejakula tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan garam biasa.
Namun dibalik kualitasnya yang istimewa, produksi garam Les juga menghadapi tantangan besar. Seluruh proses sangat bergantung pada cuaca dan intensitas sinar matahari.
Saat musim kemarau dengan cuaca cerah, petani dapat memanen garam dalam waktu relatif singkat.
Sebaliknya, ketika musim hujan tiba, produksi biasanya menurun drastis bahkan terhenti.
“Kalau kondisi cuaca bagus, panen bisa dilakukan satu sampai dua hari sekali. Hasilnya tergantung masing-masing petani, bisa mencapai puluhan kilogram. Tapi memang produksi garam sangat bergantung pada cuaca karena seluruh proses masih tradisional,” jelas Adi Wistara.
Meski demikian, permintaan terhadap garam Les terus menunjukkan tren positif. Produk garam yang dihimpun melalui kelompok-kelompok petani kemudian dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Pemasarannya juga mendapat dukungan dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali. Setiap bulan, garam produksi Desa Les secara rutin diserap untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Bahkan sekitar tiga tahun lalu, hampir enam ton garam Les berhasil dipasarkan lebih luas dengan dukungan Pemerintah Provinsi Bali.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa produk tradisional yang dikelola dengan baik tetap memiliki daya saing tinggi di tengah perkembangan industri modern.
Di Desa Les, garam bukan sekadar bumbu dapur. Ia adalah warisan budaya, sumber penghidupan, sekaligus identitas masyarakat pesisir yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya