Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Jemari yang Makin Tua, Perajin di Desa Tunjung Buleleng Berjam-jam Menganyam demi Rp 15 Ribu

Admin • Kamis, 16 Juli 2026 | 23:19 WIB
SARANA UPAKARA: Kerajinan tamas dan serembeng daksina yang diproduksi warga di Banjar Dinas Tonggak, Desa Tunjung, Kabupaten Buleleng. Para perajin kini dihadapkan dengan harga produk yang murah. (Ni Luh Taruni Resmiadi untuk Radar Buleleng)
SARANA UPAKARA: Kerajinan tamas dan serembeng daksina yang diproduksi warga di Banjar Dinas Tonggak, Desa Tunjung, Kabupaten Buleleng. Para perajin kini dihadapkan dengan harga produk yang murah. (Ni Luh Taruni Resmiadi untuk Radar Buleleng)

 

RadarBuleleng.id - Bali dikenal dunia karena upacara adatnya yang megah. Ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan prosesi sakral yang sarat warna, doa, dan filosofi kehidupan. 

Namun jauh dari gemerlap itu, di sebuah sudut Banjar Tonggak, Desa Tunjung, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, ada kisah lain yang nyaris tak pernah mendapat sorotan.

Kisah tentang jemari-jemari tua yang terus bergerak menganyam daun kelapa. Tentang kesabaran yang dijahit menjadi tradisi. Tentang pengabdian yang nilainya bahkan tak sampai seribu rupiah per buah.

Di rumah-rumah sederhana Banjar Tonggak, suara guntingan daun kelapa dan gesekan bilah bambu masih terdengar hampir setiap hari. 

Warga setempat mempertahankan kerajinan tamas dan serembeng daksina, dua sarana penting dalam berbagai upacara Hindu Bali.

Mereka bekerja berjam-jam setiap hari. Mengandalkan ketelitian, keterampilan, dan kesabaran yang diwariskan turun-temurun. Namun hasil kerja keras itu hanya dihargai sekitar Rp 15 ribu per ikat.

Di balik setiap banten yang tersusun indah di pura maupun rumah-rumah umat Hindu Bali, ada tangan-tangan sunyi yang memastikan seluruh sarana upacara tersedia. 

Mereka bukan tokoh adat, bukan pula figur yang tampil di panggung-panggung budaya. Mereka adalah para perajin yang diam-diam menjaga denyut tradisi tetap hidup.

Salah satunya Ni Nyoman Klepon, 60, yang akrab disapa Dadong Su.

Siang itu, perempuan lanjut usia tersebut duduk di teras rumahnya. Di sekelilingnya berserakan potongan janur, bilah bambu, dan tumpukan anyaman yang siap dikirim ke berbagai daerah di Bali. 

Meski usia terus bertambah, jemarinya masih lincah bergerak menyusun lembar demi lembar daun kelapa.

“Saya menekuni pekerjaan ini sejak umur delapan tahun,” tuturnya.

Puluhan tahun telah berlalu sejak pertama kali ia belajar menganyam bersama orang tuanya. Namun hingga kini, keterampilan itu masih setia ia jalani.

Bagi Dadong Su, membuat tamas dan serembeng daksina bukan sekadar cara mencari nafkah. Ada tanggung jawab moral yang ia rasakan sebagai pewaris tradisi leluhur.

“Sampai sekarang saya tetap bertahan karena merasa punya tanggung jawab menjaga warisan leluhur agar tidak hilang begitu saja,” katanya.

Pekerjaan itu menuntut ketelitian luar biasa. Setiap daun kelapa harus dipilih dengan kualitas terbaik. 

Daunnya dipotong dengan ukuran seragam, kemudian dijahit satu per satu menggunakan bilah bambu yang diraut tipis.

Tidak ada mesin. Tidak ada teknologi modern. Semua dikerjakan dengan tangan.

“Kalau potongannya tidak sama, hasilnya tidak simetris. Kasihan yang membeli untuk upacara,” ujarnya.

Kesalahan sekecil apa pu dapat mengubah bentuk anyaman. Karena itu, para perajin harus bekerja dengan konsentrasi penuh selama berjam-jam.

Ironinya, kerja yang membutuhkan keterampilan khusus tersebut belum berbanding lurus dengan nilai ekonominya.

Satu ikat tamas berisi sekitar 50 buah. Sementara satu ikat serembeng daksina berisi 25 buah. Harga yang diterima perajin rata-rata hanya sekitar Rp 15 ribu per ikat.

Artinya, satu buah tamas hanya bernilai sekitar Rp 300. Sedangkan satu serembeng daksina sekitar Rp 600.

“Kalau harga satu ikat tamas dan serembeng daksina sekarang dari pengrajin biasanya sekitar Rp 15 ribu, tergantung ukuran dan kualitasnya,” ujar I Gede Ngurah Mertadana, pengepul hasil kerajinan di Desa Tunjung.

Ngurah selama ini menyerap hasil produksi para perajin Banjar Tonggak untuk kemudian didistribusikan ke berbagai wilayah seperti Gianyar, Kintamani hingga Denpasar.

Menurutnya, harga tersebut sebenarnya belum mencerminkan proses panjang yang harus dilalui para perajin.

“Menurut saya pribadi, harga itu masih sangat murah kalau dibandingkan dengan proses pembuatannya. Para perajin sebenarnya layak mendapatkan harga yang lebih tinggi,” katanya.

Persoalan yang dihadapi para perajin tak berhenti pada harga jual.

Perubahan zaman menjadi tantangan lain yang semakin berat. Daun kelapa berkualitas mulai sulit diperoleh. 

Cuaca yang tidak menentu memengaruhi kualitas bahan baku. Sementara sebagian besar perajin kini telah memasuki usia lanjut.

Di sisi lain, kebutuhan ekonomi memaksa banyak warga mencari pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan.

Beternak sapi dan babi menjadi salah satu pilihan yang kini banyak dilirik masyarakat. Penghasilannya dinilai lebih stabil dibandingkan mengandalkan kerajinan tradisional.

Fenomena itu menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan adat.

“Kalau semua orang memilih beternak dan meninggalkan anyaman, siapa yang nanti membuat sarana upacara kita?” ungkap Prajuru Adat Banjar Tonggak, Wayan Mocong.

Pria yang akrab disapa Pekak Gun itu menilai ancaman terbesar bukan sekadar hilangnya profesi perajin. Yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya pengetahuan tradisional yang selama ratusan tahun diwariskan secara lisan dan praktik langsung.

“Tanpa perajin, kita kehilangan akar budaya,” tegasnya.

Meski demikian, harapan belum sepenuhnya padam.

Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada generasi muda yang memandang kerajinan tradisional sebagai bagian penting identitas Bali.

Luh Ariani, misalnya.

Remaja Banjar Tonggak itu meyakini tamas dan serembeng daksina bukan sekadar produk anyaman, melainkan simbol budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.

“Kerajinan tamas dan serembeng daksina itu identitas kita sebagai orang Bali,” ujarnya.

Menurut Ariani, media sosial justru bisa menjadi sarana baru untuk menyelamatkan tradisi lama. 

Proses pembuatan anyaman dapat diperkenalkan melalui video dan promosi digital sehingga menjangkau lebih banyak orang.

“Atau mempromosikan hasil kerajinannya secara online,” katanya.

Ia bahkan mengaku tertarik mendalami keterampilan tersebut jika mendapat kesempatan belajar lebih serius.

“Kalau diberi kesempatan dan ada yang membimbing, saya sendiri tertarik untuk belajar membuatnya secara serius. Supaya budaya itu tidak hilang begitu saja dan hanya tinggal cerita di buku sejarah,” ujar Ariani.

Sore mulai turun di Banjar Tonggak.

Dadong Su perlahan merapikan sisa-sisa daun kelapa yang belum sempat dianyam hari itu. 

Usianya terus bertambah. Tenaganya mungkin tak lagi sekuat dulu. Namun semangatnya menjaga warisan leluhur tetap menyala.

Ketika ditanya harapannya, jawabannya sederhana.

Ia berharap generasi muda tidak malu mempelajari kerajinan tradisional daerahnya sendiri. 

Ia juga berharap pemerintah hadir lebih nyata untuk membantu para perajin kecil yang selama ini bekerja dalam senyap.

“Mudah-mudahan generasi muda jangan malu untuk belajar dan mencintai kerajinan tradisional daerah sendiri. Saya juga sangat berharap pemerintah lebih memperhatikan para pengrajin di desa,” harapnya.

Menurut para perajin, dukungan yang dibutuhkan sebenarnya tidak muluk-muluk. Mulai dari perluasan akses pemasaran, pelatihan inovasi produk, peremajaan pohon kelapa sebagai sumber bahan baku, hingga pengenalan kerajinan tradisional ke sektor pariwisata yang lebih luas.

“Kalau ada kerja sama dan dukungan yang baik dari semua pihak pemerintah membantu promosi, desa adat menjaga aturan, dan generasi muda mau belajar saya yakin kerajinan ini bisa bertahan. Bahkan bisa berkembang, bukan cuma untuk ritual adat saja,” ungkap Pekak Gun.

Ketika Bali terus memukau dunia lewat ritual dan budayanya, ada satu kenyataan yang kerap terlupakan. Kemegahan itu sesungguhnya berdiri di atas kerja sunyi para perajin desa.

Dari jemari tua Dadong Su, uang yang dihasilkan mungkin tak seberapa. Bahkan untuk sekadar menikmati kemewahan yang sering dipromosikan pariwisata Bali pun masih terasa jauh.

Namun dari jemari yang tak pernah berhenti menganyam itulah, denyut spiritual Bali tetap hidup hingga hari ini. (Penulis: Ni Luh Taruni Resmiadi)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
bali hindu Daun Kelapa kerajinan buleleng