Petani di Desa Suwug Branding Beras Lokal. Kini Makin Diminati Warga

Francelino Junior • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 16:48 WIB
BRANDING BERAS LOKAL: Beras produksi para petani di Desa Suwug. Beras tersebut makin diminati masyarakat. (Pemdes Suwug)
BRANDING BERAS LOKAL: Beras produksi para petani di Desa Suwug. Beras tersebut makin diminati masyarakat. (Pemdes Suwug)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Tidak semua desa dengan hamparan sawah mampu menghadirkan produk beras dengan merek sendiri. 

Tetapi di Desa Suwug, Kecamatan Sawan,Kabupaten Buleleng, mulai menunjukkan potensi tersebut melalui produk unggulan bernama “Beras Putri Desa”.

Beras yang diproduksi dari hasil pertanian lokal Desa Suwug itu mulai diperkenalkan sekitar dua bulan lalu. 

Produk tersebut mendapat respons positif dari masyarakat karena memiliki kualitas premium dengan tekstur pulen, ukuran butiran besar, dan warna beras yang putih.

“Dua bulan lalu, kami panen dan rilis beras Putri Desa asli Desa Suwug. Berasnya pulen, besar-besar, putih, premium,” kata Perbekel Desa Suwug Ketut Suadnyana.

Kemunculan Beras Putri Desa tidak lepas dari program ketahanan pangan yang dijalankan Pemerintah Desa Suwug sejak 2024. 

Program tersebut kemudian dikembangkan melalui konsep Desa Tematik Padi dengan memanfaatkan potensi pertanian yang dimiliki desa.

Desa Suwug diketahui memiliki tujuh subak dengan total luas lahan mencapai sekitar 80 hektare. 

Melalui sinergi antara pemerintah desa dan kelompok subak, hasil panen petani kemudian diserap dan dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sari Timbul.

Suadnyana mengatakan, beras menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat sehingga kehadiran produk beras lokal diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan warga terhadap hasil pertanian desa sendiri.

“Memang untuk pemasarannya masih lingkup lokal saja, tetapi sudah masuk juga ke pasar dan desa-desa tetangga,” jelasnya.

Tingginya minat masyarakat bahkan membuat BUMDes Sari Timbul mengalami keterbatasan stok bahan baku. Hingga saat ini, Beras Putri Desa tercatat telah terjual sekitar satu ton.

Untuk menyesuaikan kebutuhan konsumen, produk tersebut dikemas dalam berbagai ukuran, mulai dari satu kilogram, lima kilogram, 10 kilogram, hingga 25 kilogram.

“Yang satu kilogram ini kebanyakan dipakai warga untuk medelokan,” papar Suadnyana.

Menurutnya, pengembangan Beras Putri Desa menjadi langkah awal untuk memperkuat posisi Buleleng sebagai daerah penghasil pangan. Selama ini, Kabupaten Tabanan lebih dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi di Bali.

Suadnyana berharap keberadaan produk lokal tersebut dapat membuktikan bahwa Buleleng juga memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dan mampu berkembang menjadi salah satu lumbung padi di Bali. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
Suwug petani beras buleleng