SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Komunitas Singaraja Movement kembali menegaskan eksistensinya lewat gelaran “Final Stomp”, sebuah gigs yang menjadi ruang temu bagi komunitas hardcore punk.
Acara bagi para penggemar skena hardcore tersebut, digelar di Do Eat Lovina Corner, pada Minggu (26/4/2026) malam.
Mengusung tema Stay Together, puluhan penonton memadati venue sejak pukul 18.00 WITA hingga mendekati tengah malam.
Hal tersebut menunjukkan para penggemar skena hardcore di Kabupaten Buleleng, Bali, tetap ada. Bahkan gerakan ini tetap eksis, meski tidak segencar satu dasawarsa silam.
Panggung “Final Stomp” menghadirkan band Glich asal Malang, yang tampil sebagai salah satu daya tarik utama.
Selain itu, sejumlah band bawah tanah yang eksis di Bali turut meramaikan. Diantaranya Agonizedslam, Boston Threat, Leave It Bleed, Byurr, Greeze, Lizzie Lazzy, hingga Greaf.
Vokalis Glich, Ciwen, mengaku penampilan di Singaraja terasa spesial karena menjadi penutup rangkaian tur mereka.
Ia menyebut energi penonton yang terlibat aktif dalam moshpit membuat suasana semakin intens.
“Seru banget, apalagi ini jadi final stomp kami, semuanya terasa keluar di atas panggung,” ujarnya.
Glich menilai musik hardcore tetap membawa nilai penting. Skena ini dianggap sebagai ruang alternatif yang aman dan inklusif, sekaligus menjaga semangat Do It Yourself (DIY) di tengah budaya serba instan.
Hal serupa dirasakan Dwipayana, salah satu pengunjung. Ia menyebut gigs menjadi tempat menyalurkan emosi sekaligus mempererat kebersamaan.
“Capek, tapi sangat seru. Di sini tempat untuk mengeluarkan emosi yang ada pada diri saya, seru karena bisa kumpul sama teman-teman, melakukan gerakan yang ikonik,” katanya.
Di balik kesuksesan acara, Singaraja Movement kembali berperan sebagai motor penggerak.
Founder Singaraja Movement, Nakula, mengakui tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi dan memastikan audiens tetap hadir di setiap gigs.
“Tantangannya adalah konsisten dan bagaimana caranya audiens tetap datang ke gigs,” ujarnya.
Meski begitu, ia melihat perkembangan positif. Kini mulai bermunculan inisiatif lain yang turut menghidupkan gigs hardcore di Singaraja. Dari yang awalnya berjalan sendiri, perlahan skena ini tumbuh secara kolaboratif.
Ke depan, Singaraja Movement berharap semangat kebersamaan ini terus terjaga, sehingga gigs hardcore tetap menjadi ruang alternatif bagi ekspresi, solidaritas, dan energi anak muda. (kontributor: Ayu Rantini)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya