Radarbuleleng.jawapos.com- Amblesnya jalan penghubung Denpasar-Gilimanuk di wilayah Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan berimbas ke arus lalu lintas di Kabupaten Buleleng.
Maka dari itu, kendaraan berat baik truk dan bus diminta melewati Jalur Bedugul-Singaraja dan tidak percaya dengan Google Maps sepenuhnya.
Dari pantauan wartawan, jalur utama di Kota Singaraja tampak padat, sesekali merayap.
Sebab kendaraan-kendaraan berat seperti truk maupun bus, kini harus melintasi Buleleng untuk dapat menuju ke Pulau Jawa.
Begitu pun sebaliknya, ketika truk maupun bus ke Kota Denpasar dari Pulau Jawa, harus melewati Bali utara.
Masuknya kendaraan dengan roda diatas empat, membuat arus lalu lintas di Kota Singaraja tampak padat.
Apalagi jalannya yang tidak begitu lebar, membuat terjadi kemacetan. Belum lagi para sopir yang memang asing dengan jalur Bali utara, yang akhirnya membuat mereka bingung dengan arah.
“Kami himbau kendaraan sumbu tiga dari Gilimanuk ke Denpasar, agar melewati Jalur Singaraja-Amlapura, meski jauh tapi aman. Sedangkan dari Denpasar menuju Gilimanuk, agar tidak melewati Jalur Wanagiri-Seririt namun turun lewat Jalur Bedugul-Singaraja. Acara as-nya tidak patah,” ujar Kasat Lantas Polres Buleleng, AKP Bachtiar Arifin pada Selasa (8/7) pagi.
Pihaknya menyebut, polisi sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Buleleng serta mitra ketiga, mengenai penyediaan mobil derek.
Sebab dari pantauan di lapangan, sempat terjadi kendaraan mogok. Sebab banyak kendaraan yang mengalami mogok di sekitar Gitgit, karena tidak kuat menanjak.
Akibatnya, terjadi kemacetan sepanjang 200 meter. Meski pendek, tetapi titik kemacetan yang muncul banyak.
Selain itu, kemacetan juga terjadi di Pertigaan Puncak Wanagiri. Banyak kendaraan yang bingung harus lewat Jalur Wanagiri-Seririt atau lurus ke Bedugul-Singaraja.
Kemacetan juga terjadi di belokan Gitgit, sebab banyak pengemudi kendaraan sumbu tiga kurang menguasai medan.
Akibatnya kendaraan lain mengekor di belakangnya. Meski begitu, pihaknya menyebut belum ada laporan kecelakaan lalu lintas.
”Jalur Kota Singaraja menjadi jalur alternatif utama, ketika Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk ada kendala. Upaya juga kami lakukan, untuk memecah kemacetan, termasuk penempatan personel,” tambah AKP Bachtiar.
Sementara itu, Kepala Dishub Buleleng, Gede Gunawan Adnyana Putra berpesan kepada sopir-sopir kendaraan besar, agar tidak percaya dengan Google Maps sepenuhnya.
Karena hal itu tentu membahayakan bagi pengemudi yang awam akan medan jalan di Bali utara.
Apalagi saat ini cuaca yang tidak menentu, akan membahayakan apabila lewat tidak pada jalur yang umum dan lazim.
Pihaknya juga mengatensi petugas sebanyak 30 orang di luar polisi, guna membantu mengarahkan kendaraan besar dari Denpasar-Gilimanuk begitu juga sebaliknya, yang memasuki Kota Singaraja.
Sehingga mereka tidak salah jalan. Sebab sebelumnya, sempat sejumlah kendaraan besar malah masuk ke Jalan Pahlawan yang jalannya tidak cocok untuk dilalui truk maupun bus, lantaran sempit.
”Kami himbau juga kepada para sopir, kalau bisa berangkatnya malam. Kemudian jangan percaya 100 persen dengan Google Maps. Ini untuk keselamatan, keamanan, dan kelancaran,” kata Gunawan.
Dishub Buleleng juga merekomendasikan tempat berhenti sementara. Seperti di Terminal Barang, Terminal Banyuasri, dan Terminal Sangket. Tujuannya agar truk tidak memperparah kemacetan arus lalu lintas di Kota Singaraja.
”Kami juga atensi dengan rambut portabel, dibantu Sat Lantas Polres Buleleng, agar menjadi penunjuk arah di lokasi yang membingungkan,” tandasnya.***
Editor : Donny Tabelak