RadarBuleleng.id - Pemkab Buleleng memberikan tawaran KB permanen bagi para pria. Caranya dengan melakukan vasektomi.
Sayangnya program vasektomi di Buleleng minim peminat. Sejak 2020-2022, tidak ada seorangpun yang berminat mengikuti program tersebut.
Sementara pada tahun 2023, hanya ada dua orang yang berminat menjalani KB pria secara permanen, lewat prosedur vasektomi.
Padahal pemerintah telah melakukan berbagai upaya guna menarik minat warga menjalani vasektomi. Mulai dari sosialisasi hingga memberikan insentif sebesar Rp 450 ribu bagi yang bersedia menjalani vasektomi.
Tahun ini Pemkab Buleleng melalui Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Buleleng, kembali membuka program vasektomi.
Pemerintah menawarkan insentif bagi dua orang pria yang bersedia menjalani vasektomi pada tahun ini.
Minimnya peminat program vasektomi diduga masih terkait dengan mitos yang menghantui program tersebut. Padahal vasektomi sama efektifnya dengan tubektomi alias operasi steril bagi wanita.
Berikut stigma yang masih menghantui vasektomi:
1. Mengurangi Kejantanan Pria
Salah satu mitos paling umum adalah vasektomi dapat mengurangi kejantanan seorang pria.
Faktanya, vasektomi hanya memutuskan saluran sperma, bukan mempengaruhi hormon atau fungsi seksual.
Seorang pria masih dapat memiliki kehidupan seksual yang normal setelah menjalani vasektomi.
2. Vasektomi Menyebabkan Penurunan Kualitas Hubungan Seksual
Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa vasektomi dapat mempengaruhi kualitas hubungan seksual.
Sebagian besar pria yang telah menjalani vasektomi melaporkan tidak adanya perubahan signifikan dalam kehidupan seksual mereka.
3. Vasektomi Meningkatkan Risiko Kanker
Studi ilmiah menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara vasektomi dengan peningkatan risiko kanker atau masalah kesehatan lainnya.
Prosedur ini telah terbukti aman dan tidak meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang.
4. Vasektomi Dapat Memicu Depresi
Tindakan vasektomi disebut dapat mempengaruhi kondisi mental seorang pria. Mitos beredar menyebutkan pria yang menjalani vasektomi akan menyesal di kemudian hari lalu tenggelam dalam depresi berkepanjangan.
Padahal sebagian besar pria yang menjalani vasektomi merasa puas dengan keputusan mereka dan tidak mengalami peningkatan risiko depresi atau penyesalan.
Keputusan untuk menjalani vasektomi seringkali merupakan keputusan yang matang dan dipertimbangkan dengan baik.
5. Vasektomi Tidak Efektif
Vasektomi merupakan salah satu metode kontrasepsi yang paling efektif, dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.
Setelah prosedur yang tepat dan mematuhi instruksi pemulihan, kemungkinan kehamilan hampir nol.
Dengan memahami fakta-fakta seputar vasektomi dan mengatasi mitos serta stigma negatif yang melingkupinya, diharapkan masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi tentang opsi kontrasepsi ini.
Edukasi yang luas, dukungan dari tenaga medis, dan dialog terbuka dapat membantu mengubah persepsi masyarakat terhadap vasektomi menjadi lebih positif dan inklusif. (*)
Editor : Eka Prasetya