SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Seorang anak berusia 8 tahun di Banjar Lebah, Desa Dencarik, Kecamatan Banjar, Buleleng, menjadi korban keganasan penyakit demam berdarah.
Bocah itu menjadi korban gara-gara mengalami demam berkepanjangan, namun tidak mendapatkan penanganan serius.
Bocah itu adalah Kadek Partha Dwipayana, siswa kelas 2 SD di SDN 2 Dencarik, Kecamatan Banjar.
Korban diketahui mengalami demam sejak Rabu (28/8/2024). Dia sempat dibawa ke praktik dokter mandiri, namun tidak sempat melakukan cek darah.
Belakangan ia dilarikan ke RSUD Tangguwisia pada Jumat (6/9/2024). Namun kondisinya sudah cukup parah.
Korban kemudian dirujuk ke RSUD Buleleng pada Sabtu (7/9/2024). Sempat dirawat semalam, korban dinyatakan tutup usia pada Minggu (8/9/2024) sekitar pukul 14.43 siang.
Perbekel Dencarik, Made Riasa mengungkapkan, setelah mendengar ada warganya yang meninggal karena demam berdarah, pihaknya berusaha menggali informasi.
Ia sempat datang ke rumah duka pada Senin (9/9/2024) guna mendapat informasi terkait meninggalnya mendiang.
Menurut Riasa, mendiang mengalami demam sejak Rabu (28/8/2024). dia sempat diperiksakan ke praktek dokter mandiri pada Jumat (30/8/2024).
Saat itu diberikan obat dan diperbolehkan pulang, alias menjalani rawat jalan. Namun setelah dari dokter, kondisi korban tak kunjung membaik.
Orang tua mendiang juga sempat mengajak korban ke Puskesmas Banjar I untuk menjalani pemeriksaan. Ternyata di sana hasil pengecekan darahnya negatif.
Selama masa perawatan mandiri, kondisi panas korban naik turun. Merasa khawatir, orang tua korban kembali datang ke praktik dokter mandiri.
Dari sana, orang tua korban disarankan datang ke RSUD Tangguwisia guna menjalani cek darah. Ternyata setelah dilakukan pengecekan, korban positif demam berdarah.
Riasa mengungkapkan, sejauh ini pihaknya berusaha mengidentifikasi lokasi korban terjangkit demam berdarah.
Pihaknya mengecek sekolah tempat mendiang belajar, ternyata sekolah dalam kondisi bersih. Rumah tempat korban tinggal juga bersih.
Selain itu di lingkungan sekitar, tidak ada korban demam berdarah. Bahkan di Banjar Lebah, hanya ada satu orang yang dinyatakan demam berdarah, yakni korban.
Lebih lanjut Riasa mengatakan, setelah menerima informasi ada warga yang meninggal karena DBD, pihaknya berencana melakukan fogging.
Sayangnya alat fogging milik desa ternyata rusak. Penyebabnya alat fogging sudah menganggur terlalu lama.
Menurutnya pihak desa sengaja membeli mesin fogging, karena selama ini prosedur permintaan fogging ke puskesmas dianggap terlalu berbelit.
“Semacam ada rumusnya di sana. Ada berapa kasus, luas wilayahnya seberapa, baru fogging. Rencananya kami di desa juga mau fogging, tapi alatnya rusak,” kata Riasa.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang anak berusia 8 tahun menjadi korban penyakit demam berdarah.
Dia sempat dilarikan ke RSUD Tangguwisia lalu dirujuk ke RSUD Buleleng. Namun nyawanya tidak tertolong. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya