Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

DPRD Buleleng Ingin RSUD Tangguwisia Naik Kelas. Tapi Jumlah SDM Terbatas

Eka Prasetya • Sabtu, 9 November 2024 | 01:00 WIB

 

TARGET NAIK KELAS: Suasana di RSUD Tangguwisia, Kecamatan Seririt.
TARGET NAIK KELAS: Suasana di RSUD Tangguwisia, Kecamatan Seririt.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - DPRD Buleleng ingin RSUD Tangguwisia di Kecamatan Seririt bisa naik kelas, sehingga bisa bersaing lebih maksimal dengan rumah sakit swasta.

Saat ini RSUD Tangguwisia masih duduk di kelas tipe D. DPRD Buleleng ingin agar rumah sakit itu naik kelas ke tipe C.

Sayangnya upaya untuk naik kelas itu akan terganjal. Lantaran jumlah infrastruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbatas.

RSUD Tangguwisia sebenarnya sejak lama diproyeksikan naik tingkat menjadi kelas C. Pemerintah pun telah menambah jumlah tempat tidur di sana.

Masalahnya, hingga kini pemerintah belum berhasil menarik dokter spesialis agar bersedia bertugas di rumah sakit tersebut.

Ketua DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya mengatakan, dewan ingin agar RSUD Tangguwisia naik kelas menjadi tipe C pada tahun 2025 mendatang.

“Ini keinginan masyarakat. Supaya masyarakat di Buleleng Barat juga bisa mendapatkan layanan kesehatan yang lebih berkualitas di sana,” kata Ngurah Arya.

Ia mengakui peningkatan status itu akan berdampak pada peningkatan beban biaya di rumah sakit tersebut.

Meski begitu, ia yakin pemerintah akan mampu mengatasinya. Buktinya rumah sakit swasta berlomba-lomba berdiri di Buleleng.

“Kalau swasta bisa menyediakan tenaga medis, tentu pemerintah juga harus bisa menyediakan. Prinsipnya pemerintah jangan omong-omong saja, tapi harus nyata mewujudkan layanan kesehatan yang paripurna,” ujar pria yang akrab disapa Arya Bodo itu.

Terpisah, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD. menyatakan meningkatkan status RSUD Tangguwisia dari tipe D menjadi tipe C perlu pemenuhan infrastruktur dan SDM.

Dalam hal infrastruktur misalnya, rumah sakit tipe C minimal harus memiliki 100 tempat tidur. Sementara RSUD Tangguwisia baru memiliki 66 tempat tidur.

Tak hanya itu, jumlah ICU dan alat pendukung lainnya, masih terbatas. Tempat tidur ICU misalnya, hanya tersedia 7 buah.

Sayangnya tempat tidur itu tidak didukung sarana yang memadai, seperti ventilator. Saat ini RSUD Tangguwisia hanya memiliki satu unit ventilator, serta mendapat pinjaman satu unit ventilator dari RSUD Buleleng. Sedangkan lima unit lainnya, tanpa ventilator.

Sementara dari sisi SDM, jumlah dokter spesialis di RSUD Tangguwisia juga terbatas. Saat ini rumah sakit baru memiliki 5 orang dokter spesialis yang meliputi spesialis bedah, spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis penyakit dalam, dan spesialis saraf.

Sedangkan dari syarat minimal, setidaknya perlu delapan orang dokter spesialis yang harus bertugas di sana.

“Mau rekrut dokter juga sulit. Nggak ada yang mau datang. Saya rasa harus menaikkan kesejahteraan mereka, baru akan datang,” ujarnya.

Arya meyakini peningkatan pendapatan dokter tidak akan mempengaruhi layanan. Lantaran mereka akan memberikan layanan terbaik pada masyarakat. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#rsud #sdm #dokter spesialis #Tangguwisia #dokter #RSUD Tangguwisia #seririt #buleleng #rsud buleleng