SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Dinas Kesehatan Buleleng mengerahkan petugas juru pemantau jentik (jumantik) guna mengantisipasi merebaknya demam berdarah di Buleleng.
Hal itu dilakukan guna mencegah meningkatnya angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada awal tahun.
Lewat pemantauan jentik nyamuk, pemerintah berharap dapat menekan perkembangan nyamuk aedes aegypti yang menjadi penyebab utama penyakit demam berdarah.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan mengatakan, secara epidemiologis, puncak kasus DBD biasanya terjadi pada bulan April. Seperti yang terjadi pada tahun 2024, tercatat ada 348 kasus.
Namun, sejak November 2024, jumlah kasus kembali meningkat. Tercatat ada 111 kasus pada November. Kemudian naik menjadi 171 kasus pada Desember. Kini pada Januari, kasusnya sudah meningkat menjadi 120 kasus.
"Angka ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk mencegah lonjakan lebih besar, khususnya saat musim penghujan," ujarnya.
Baca Juga: Demam Berdarah Dengue Renggut Nyawa Bocah 8 Tahun, Kepala Dinas Kesehatan Ngaku Belum Terima Laporan
Untuk menanggulangi penyebaran DBD, Dinas Kesehatan mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui program "Satu Rumah Satu Jumantik".
Lewat program tersebut, pemerintah mengajak setiap rumah tangga menunjuk seorang jumantik. Tugasnya, memantau perkembangan jentik di lingkungan masing-masing.
“Idealnya memang ibu rumah tangga. Karena mereka yang sering membersihkan rumah dan paling mengenal kondisi lingkungan sekitar,” jelas Budiastawan.
Dinkes juga telah mengedarkan surat edaran ke desa untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara menyeluruh dan fogging terarah.
Ditambah lagi, Dinkes menggandeng Puskesmas sebagai ujung tombak edukasi dan sosialisasi kesehatan, termasuk mengoptimalkan peran Posyandu di tingkat desa.
“Melalui sinergi ini, kami berharap masyarakat dapat lebih memahami pentingnya pencegahan dan ikut berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan,” imbuhnya.
Meski kini terjadi peningkatan kasus DBD, Dinkes berharap masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
“Astungkara, dengan berakhirnya musim penghujan, angka kasus DBD dapat ditekan. Namun, kewaspadaan tetap harus dijaga agar tidak terjadi ledakan kasus baru,” tutup Nyoman Budiastawan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya