SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Hampir setiap tahun, kasus rabies selalu muncul di Buleleng. Meski sudah menjadi kasus mematikan, namun masyarakat masih banyak yang abai.
Rabies merupakan penyakit infeksi pada sistem saraf pusat (otak) yang disebabkan oleh virus rabies.
Penyakit tersebut berasal dari gigitan hewan yang telah terjangkit rabies. Bisa berasal dari anjing, kucing, maupun monyet.
Khusus di Bali, kasus rabies pada manusia mayoritas dipicu oleh gigitan anjing kepada manusia.
Manusia yang telah terjangkit rabies, sulit disembuhkan. Kematian akibat penyakit ini, hampir mencapai 100 persen.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan mengatakan, penyakit rabies memang membuat resah. Apalagi awal tahun ini, seorang warga di Desa Munduk, Buleleng, tewas akibat rabies.
Baca Juga: Amor ing Acintya. Seorang Warga Buleleng Tewas Akibat Rabies
Menurut Budiastawan, kasus rabies sebenarnya bisa dicegah. Caranya sederhana, dengan memelihara hewan secara bertanggung jawab.
Masyarakat yang memelihara anjing, kucing, maupun kera, harus mengikat atau mengandangkan hewan mereka.
Hewan juga harus mendapatkan vaksin secara berkala. Kebersihan dan kesehatan juga harus dipantau.
”Kalau mengalami gigitan dari HPR, segera lakukan pencucian luka dengan sabun atau detergen pada air mengalir selama 15 menit. Segera datang ke faskes terdekat, sekecil apapun luka gigitannya agar mendapat penanganan sesuai SOP,” saran Budiastawan.
Menurut Budiastawan, masyarakat memang tidak langsung diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) atau Serum Anti Rabies (SAR). Sebab pemberian vaksin maupun serum dilakukan berdasarkan indikasi medis.
Kasus gigitan anjing yang menyasar kepala, biasanya akan langsung diberikan VAR bahkan Serum Anti Rabies.
Sedangkan kasus gigitan anjing pada tangan maupun kaki, akan diobservasi selama 14 hari oleh tim medis.
Observasi biasanya dilakukan selama 14 hari. Warga yang tergigit wajib mengedepankan komunikasi dengan faskes, untuk memberitahukan perkembangan dirinya pasca terkena gigitan.
Ini dilakukan agar petugas medis dapat dengan cepat memberikan penanganan, sekalipun dalam hal terburuk.
“Kami sangat berharap agar korban gigitan tidak menutup diri. Jangan menganggap remeh kasus gigitan anjing, apalagi kalau asalnya dari anjing liar,” ujarnya.
Ia mengakui kasus rabies masih belum bisa dicegah. Sebab masih banyak anjing liar. Bahkan masyarakat banyak yang sengaja meliarkan hewan peliharaan mereka.
Untuk itu, masyarakat diimbau mengenali ciri-ciri anjing yang terjangkit rabies. Biasanya anjing rabies akan menggigit dan menyerang segala sesuatu yang bergerak.
Ekor anjing juga terjepit diantara kedua paha, mulutnya terbuka dan selalu mengeluarkan air liur berlebihan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya