Opini oleh : Prima Trisna Aji*
Semakin banyaknya radikal bebas yang berada disekitar manusia membuat banyak sekali beraneka ragam penyakit yang ditimbulkan pada tubuh manusia. Dari penyakit yang ringan hingga yang berat, beberapa penyakit juga belum memiliki obatnya. Kalau toh ada, obat hanya untuk mengurangi tanda dan gejala penyakit.
Salah satu penyakit yang diakibatkan oleh paparan radikal bebas yang terlalu banyak adalah penyakit Psoriasis. Penyakit Psoriasis sendiri merupakan penyakit yang disebut dengan penyakit autoimun. Autoimun dimana pada kekebalan tubuh manusia yang seharusnya membunuh kuman atau virus, justru menyerang pada sel tubuh itu sendiri. Hal ini dikarenakan sel imun tidak mampu membedakan antara sel kuman sebagai musuh dengan tubuh sendiri.
Pertumbuhan sel kulit baru yang terlalu cepat adalah tanda penyakit kulit kronis. Hal ini menyebabkan bercak-bercak kulit yang kemerahan, bersisik, dan tebal. Faktor genetik, sistem kekebalan tubuh yang rusak, dan faktor lingkungan seperti infeksi atau stres diduga menjadi penyebab psoriasis, meskipun penyebab pastinya tidak diketahui.
Bercak-bercak kemerahan, bersisik, dan menebal pada kulit adalah gejala utama psoriasis, terutama di area siku, lutut, kulit kepala, dan punggung bawah. Selain itu, penyakit psoriasis dapat menyebabkan gatal, nyeri, dan bahkan perubahan pada kuku dan sendi.
Seiring dengan perkembangan penelitian pada tahun 2025 saat ini beberapa terapi ditemukan untuk mengatasi masalah gejala yang timbul akibat penyakit Psoriasis tersebut. Salah satu terapi yang ditemukan adalah Terapi Ikan. Penelitian terbaru dari Teri shih tahun 2020 dari University of California Los Angeles USA menemukan terapi ikan yang dinamakan dengan Iktio Therapy atau pedikur ikan.
Iktio Therapy atau pedikur ikan merupakan bentuk bioterapi unik yang menggunakan spesies Garra rufa atau ikan dokter untuk mengelupas kulit dan berpotensi membantu penyembuhan penyakit, seperti psoriasis. Praktik ini telah populer sejak asal-usulnya di Kangal Fish Spring di Turki; namun, masalah keamanan, terutama di antara pasien dengan gangguan kekebalan tubuh, masih ada.
Artikel ini mengulas manfaat dermatologis iktio therapy yang telah dipelajari dan mekanisme kerja yang diteorikan. Termasuk kasus-kasus yang meneliti komplikasi infeksi dan noninfeksi dari prosedur ini. Tinjauan ini menyoroti perlunya mengedukasi pasien yang rentan tentang kemungkinan efek samping dan perlunya lebih banyak penelitian untuk menilai prosedur ini.
Iktio Therapy, juga disebut sebagai "pedikur ikan" atau "spa ikan". Teknik bioterapi ini fokus pada tangan, kaki, dan seluruh tubuh yang direndam dalam air yang diisi dengan ikan Garra rufa. Selanjutnya ikan memakan kulit-kulit yang telah mati.
Ikan garra rufa adalah spesies ikan mas kecil yang berasal dari Asia Barat dan Anatolia. Spesies ini bersifat omnivora. Biasanya memakan zooplankton atau fitoplankton. Mereka juga dapat memakan kulit manusia saat tidak ada makanan.
Iktio Therapy berasal dari Kangal Fish Spring di Turki, sebuah mata air yang terletak di Kangal, sebuah distrik di provinsi Sivas. Menurut sejarah setempat, khasiat terapeutik mata air tersebut pertama kali diketahui pada awal tahun 1900-an oleh seorang penggembala yang menyembuhkan kakinya yang terluka di air mata air tersebut. Hal ini menyebabkan pengembangan kolam renang umum dan fasilitas penginapan di dekat mata air tersebut pada tahun 1960-an
Terapi dilakukan dengan merendam tubuh pasien ke dalam air sampai dada pada kolam yang telah berisi ikan. Prosedur ini dilakukan dua hari sekali selama dua belas hari. Setiap sesi terapi dilakukan selama lima belas hingga dua puluh menit.
Terapi ikan sendiri dilakukan pada kolam dengan sekitar 100 ikan. Terapi ini dilakukan dengan memberi ikan makanan yang kaya nutrisi dan mencelupkan kaki telanjang ke dalam air selama lima belas hingga tiga puluh menit. Tujuannya adalah agar ikan berkumpul di kaki dan memakan kulit yang mati.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Fisheries Sciences oleh Shreya Bhattacharya, terapi ikan di Universitas Vidyasagar ICAR-CIFE mengangkat sel kulit yang mati dan kering, membuat kulit lebih lembut, menghilangkan keluhan kulit seperti psoriasis dan penyakit kulit lainnya, mendorong pertumbuhan sel baru, dan memberikan pijatan yang lembut untuk meningkatkan sirkulasi darah.
Efek samping lain dari terapi ikan sendiri termasuk luka pada kaki akibat gerigi gigi ikan, virus mematikan yang menyebar melalui darah, infeksi bakteri, infeksi jamur, dan hepatitis. Namun hal ini bisa dicegah dengan penggunaan kolam kecil dimana ketika akan digunakan terapi oleh penderita lain diganti airnya serta ikannya dan dibersihkan dengan sabun antiseptic. (*)
*) Penulis adalah dosen pada prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya