Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Blunder Menkes dan Pentingnya Komunikasi Efektif dalam Isu Kesehatan

Admin • Senin, 19 Mei 2025 | 21:36 WIB

 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Opini oleh: Prima Trisna Aji*

DUNIA kesehatan kembali menjadi perbincangan. Gara-gara pernyataan blunder Menteri Kesehatan, Budi Gunawan Sadikin kepada awak media. Menkes menyampaikan bahwa Ukuran Celana Pria 33–34 cepat menghadap Allah SWT. Secara tak langsung, hal yang dimaksud menghadap Allah SWT adalah cepat menghadap kepada kematian.

Setelah pernyataannya yang kontroversial, akhirnya Menteri Kesehatan Budi Gunawan Sadikin memberikan klarifikasi. Bahwa yang dimaksud dengan pria ukuran 33 – 34 adalah para obesitas yang memiliki berat badan berlebih. 

Di hadapan awak wartawan, ia menganalogikan berbahayanya visceral fat atau lemak yang menumpuk di rongga perut dan mengelilingi organ penting, karena disebabkan oleh makanan-makanan berlemak. Budi Gunawan Sadikin menyatakan bahwa lemak yang menempel pada tempat yang tidak seharusnya menyebabkan sitokin pro-inflamasi.

Pernyataan Menkes Budi Gunawan Sadikin memang benar. Bahwa obesitas merupakan salah satu indikator utama yang bisa menyebabkan masalah Kesehatan yang serius bagi Kesehatan. 

Hal tersebut sesuai dengan Penelitian dari National Institute Of Diabetes and Digestive and Kidney Disease bahwa Penelitian di tahun 2025 menguatkan bahwa obesitas merupakan faktor risiko penting untuk berbagai penyakit serius. Seperti penyakit jantung, diabetes, dan stroke. 

Obesitas juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena membebani jantung, meningkatkan tekanan darah, kadar kolesterol jahat, dan menyebabkan resistensi insulin. Selain itu, obesitas juga terkait dengan peningkatan risiko stroke dan beberapa jenis kanker.

Obesitas juga memiliki resiko lebih besar yang bisa menyebabkan kematian mendadak. Karena obesitas meningkatkan risiko penyakit jantung dimana dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang berisiko pada sistem kardiovaskular. Peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL), resistensi insulin, dan kondisi sleep apnea atau berhenti bernafas sewaktu tidur.

Meskipun pernyataan Menkes Budi Gunawan Sadikin benar tentang resiko bahaya obesitas bagi Kesehatan, tetapi disini yang menjadi sorotan adalah gaya komunikasi dari pejabat publik. Gaya tersebut dinilai tidak bisa diterima oleh masyarakat karena diksi yang kurang tepat. 

Sebagai pejabat publik, tentunya salah satu indikator utama yang berperan dalam keberhasilan program adalah komunikasi yang baik dan tepat atau ‘komunikasi efektif’. Apalagi kesadaran Masyarakat Indonesia tentang pencegahan penyakit sangat kurang. 

Mengacu data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan, saat ini kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya menjaga kesehatan masih sangat rendah. Hanya 20 persen warga Indonesia yang peduli dengan kebersihan dan kesehatan.

Untuk itu pemerintah perlu menggalakkan pendidikan Kesehatan di berbagai sektor. Sehingga kesadaran masyarakat Indonesia tentang Kesehatan. Pendidikan kesehatan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat apabila penyampaian komunikasi dilakukan dengan baik dan tepat. 

Dengan komunikasi yang baik, masyarakat akan mengerti dan tergugah meningkatkan kesadaran kesehatan diri. Sehingga berbagai penyakit serius bisa dicegah sedini mungkin. Dan menghindari polemik karena pernyataan yang blunder dari pejabat publik.

Menkes perlu menyampaikan pernyataan dengan menggunakan gaya komunikasi efektif dan mudah dipahami oleh Masyarakat. Analogi soal ukuran celana 33–34 tentunya kurang tepat. Karena untuk mengkategorikan obesitas menggunakan IMT (Indeks Massa Tubuh), sesuai dengan hitungan Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Bukan semata-mata soal ukuran celana.

Ini sudah kedua kalinya Menkes menyampaikan pernyataan kontroversial. Pada Januari 2025, Menkes juga pernah menyampaikan bahwa BPJS tidak dapat menanggung semua penyakit, sehingga masyarakat diminta untuk mendaftar asuransi swasta. 

Sumbatan komunikasi bisa terjadi karena latar belakang Menkes yang bukan dari Kesehatan. Sehingga gaya bahasa penyampaian dari sisi medis, menjadi kurang pas untuk diterima Masyarakat. 

Sebaiknya, Menteri Kesehatan harus lebih berhati-hati dalam mengeluarkan statement. Pejabat publik harus memiliki empati yang tinggi untuk masyarakat. Komunikasi yang sederhana sangat penting, namun kejelasan dan pemahaman masyarakat juga tidak kalah penting. Humor dapat menjadi alat yang efektif, tetapi jika digunakan dengan kurang hati-hati akan melukai perasaan orang lain. 

Komunikasi efektif yang baik merupakan salah satu kunci dimana keberhasilan program bisa dilaksanakan dengan baik kepada Masyarakat Indonesia. Komunikasi yang dapat membuat masalah yang besar bisa teratasi. Sedangkan komunikasi yang buruk, bisa menyebabkan salah paham masalah kecil menjadi besar. (*)

 

*) Penulis adalah dosen pada Prodi Spesialis Medikal Bedah di Universitas Muhammadiyah Semarang.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#obesitas #kolesterol #kesehatan #menkes #lemak #menteri #komunikasi #kontroversial #Budi Gunawan Sadikin #ukuran celana