Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Fakta vs Mitos: Benarkah Daging Kambing Sebabkan Hipertensi?

Admin • Rabu, 4 Juni 2025 | 23:23 WIB
ilustrasi daging kambing
ilustrasi daging kambing

Opini oleh Prima Trisna Aji*

MENJELANG Hari Raya Idul Adha tahun 2025, umat muslim akan merayakan hari raya besar. Dimana umat muslim akan melaksanakan ibadah kurban. Di Indonesia, ibadah kurban dilakukan dengan cara menyembelih kambing atau sapi. 

Seiring dengan datangnya Idul  Adha, mulai muncul mitos-mitos konsumsi daging yang dikaitkan dengan kesehatan. Ada mitos yang beranggapan bahwa menjelang Idul Adha, orang tua dilarang untuk mengonsumsi daging kambing karena memicu kolesterol, darah tinggi atau hipertensi, penyakit jantung, dan ancaman stroke.

Gegara mitos tersebut, Idul Adha menjadi momok menakutkan bagi penderita kolesterol, jantung dan stroke. Padahal hari raya Idul Adha seharusnya menjadi kegembiraan bagi semua kalangan. Kurangnya pengetahuan dan edukasi tentang manfaat kesehatan dari mengonsumsi daging kambing bahkan memicu phobia daging kambing bagi beberapa orang.

Sebenarnya jika mau mencermati serta melakukan telaah ilmu pada zaman modern ini, daging kambing tidak selalu menyebabkan penyakit. Penelitian terbaru justru menunjukkan mengonsumsi daging kambing justru memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh. Baik itu bagi penderita jantung koroner maupun hipertensi.

Penelitian terbaru dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan bahwa daging kambing bukanlah daging yang memiliki lemak tertinggi. Setiap 100 gram daging tanpa lemak mengandung 122 kalori, 2,6 gram lemak baik, 0,79 lemak jenuh serta 27 gram protein. Dari kadar lemak tersebut, daging kambing memiliki peringkat nomor tiga daripada daging hewan lain yang memiliki kandungan lemak.

Hal tersebut juga sesuai dengan Penelitian yang dilakukan oleh Alina dkk yang baru dipublikasikan pada Jurnal BioMed Research Internasional pada 2024. Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa daging kambing diperkaya Asam Lemak Omega-3 yang dapat menurunkan kolesterol plasma.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Jurnal Nutrients pada tahun 2020 juga menunjukkan bahwa mengonsumsi keju kambing kaya omega-3. Konsumsi keju kambing bahkan meningkatkan Biomarker kardiovaskuler pada orang yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas. Konsumsi daging kambing memiliki efek yang baik pada jantung pada penderita obesitas apabila dikonsumsi secara tepat dan tidak berlebihan. 

Penelitian klinis yang melibatkan peserta yang sehat menemukan bahwa mengonsumsi daging domba yang diberi makan rumput alami tiga kali sehari selama empat minggu dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Sedangkan dari hasil laboratorium menunjukkan bahwa pada plasma darah menunjukkan peningkatan sistem imun didalam tubuh manusia. Selain itu juga bisa menurunkan kadar kolesterol jahat pada darah manusia apabila dikonsumsi sesuai dengan takaran serta tidak berlebihan. 

Dari ketiga penelitian tersebut menunjukkan hasil yang sama bahwa produk daging kambing bisa memberi manfaat yang baik bagi tubuh manusia serta bisa menjaga kebugaran tubuh. Kata kuncinya, apabila daging kambing dikonsumsi sesuai aturan, tentu saja bisa menurunkan kadar kolesterol jahat di dalam tubuh manusia. Faktor pola makan yang seimbang empat sehat lima sempurna sangat penting dalam menjaga nutrisi pada tubuh manusia supaya bisa memenuhi nutrisi secara seimbang. 

Perlu diketahui bahwa kandungan lemak daging kambing lebih rendah dibandingkan dengan daging hewan yang lainnya. Seperti ayam tanpa kulit yang memiliki 3 gram lemak dan daging sapi yang memiliki 3,5 gram lemak. Daging kambing juga merupakan salah satu daging yang mudah diserap oleh tubuh sehingga cepat mudah untuk bisa dirasakan manfaatnya, tinggi akan vitamin B12, zat besi, zat besi nabati, meningkatkan sel darah merah, meningkatkan kesehatan otot dan tulang serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh supaya tidak mudah terserang penyakit. 

Mengapa Daging Kambing “Dituduh” Penyebab Hipertensi?

Pandangan masyarakat yang menganggap daging kambing sebagai penyebab utama penyakit hipertensi tidak sepenuhnya benar. Hal yang bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah tinggi adalah konsumsi daging kambing yang berlebihan, cara penyajian yang tidak tepat, serta pola pandang terhadap nilai gizi pada daging kambing tersebut. 

Pengolahan daging kambing di Indonesia mayoritas penyajiannya dilakukan dengan cara dibakar lewat sate. Ada pula yang disajikan dengan gulai atau tongseng. Bumbu yang banyak santan, tinggi garam, serta bumbu manis yang berlebihan bisa meningkatkan kolesterol jahat didalam tubuh manusia. 

Belum lagi dengan pendamping makan sate kambing dan gulai kambing. Konsumsi makanan ini kerap kali dibarengi dengan minuman yang tinggi gula serta gorengan yang merupakan kombinasi lengkap paket dalam meningkatkan tekanan darah manusia.

Berbagai penelitian dalam ilmu gizi modern menunjukkan bahwa faktor yang menyebabkan tekanan darah tinggi adalah pola makan secara keseluruhan. Bukan hanya dipicu satu jenis makanan. Pola makan yang salah seperti konsumsi tinggi garam, tinggi lemak jenuh, makanan bersantan, rendah serat, lebih besar beresiko mengalami peningkatan tekanan darah tinggi. 

Mengkonsumsi daging kambing sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan memiliki manfaat untuk kesehatan. Seperti sumber protein yang tinggi sebagai media mempercepat proses penyembuhan luka, meningkatkan masa otot bagi binaragawan, meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah anemia atau kekurangan darah, mensuplai nutrisi pada otak dan nutrisi yang baik bagi ibu hamil yang membutuhkan nutrisi. 

Tentu timbul pertanyaan, bagaimana cara mengonsumsi daging kambing yang tepat? Konsumsi daging kambing tentu saja disarankan pada daging yang memiliki kandungan rendah lemak. Yaitu paha dan pinggang pada kambing. Lemak pada daging sebaiknya dibuang sebelum dimasak. 

Cara memasak daging sebaiknya menghindari dengan cara dibakar serta terlalu banyak kandungan bumbu tinggi garam dan penyedap rasa. Daging bisa dimasak dengan cara dipanggang pada bara api, dikukus, atau ditumis dengan menggunakan minyak zaitun. Bumbunya bisa menggunakan rempah-rempah seperti kunyit, jahe, dan ketumbar. Idealnya konsumsi per porsi tidak lebih dari 100–150 gram dan  harus diimbangi dengan konsumsi sayuran dan buah untuk memperkaya nutrisi pada tubuh manusia. 

Mitos Masyarakat yang Salah Terhadap Daging Kambing

Edukasi tentang manfaat daging kambing yang kurang tepat, akan membuat tubuh kehilangan nutrisi yang penting. Apalagi daging kambing memiliki kandungan nutrisi yang tinggi yang banyak dibutuhkan oleh tubuh manusia. Jangan sampai tubuh mengalami “demonisasi” karena persepsi yang salah tentang informasi yang kurang tepat dari manfaat daging kambing. 

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidak ada makanan yang sepenuhnya buruk. Begitu juga sebaliknya, tidak ada makanan yang sepenuhnya baik. Porsi penyajian dan cara mengkonsumsinya harus sesuai dengan takaran yang tepat sehingga tidak berlebihan. Dengan menerapkan pola konsumsi dan cara memasak yang tepat, tentu saja bisa mengurangi rasa takut ketika mengonsumsi daging kambing selama hari raya Idul Adha. 

Jadi, kenapa kita harus takut makan daging kambing ketika hari raya Idul Adha tiba? Hal yang paling penting adalah bisa memahami serta bisa mengkonsumsinya dengan baik serta tidak berlebihan. Sehingga dengan edukasi yang tepat maka daging kambing bukanlah makanan yang menakutkan bagi masyarakat. Sebaliknya, daging kambing bisa menjadi salah satu menu makanan sehat bagi masyarakat.

Apalagi, daging kambing merupakan salah satu makanan favorit dari Rasulullah SAW. Dari riwayat Bukhari dan Muslim menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menyukai paha kambing karena mudah dimasak, mudah dicerna, lezat, dan lebih steril dari risiko penyakit. Rasulullah juga menyukai daging kambing tanpa lemak dan bagian daging yang baik. (*)

 

*) penulis adalah dosen pada Prodi Spesialis Medikal Bedah, Universitas Muhammadiyah Semarang.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#obesitas #kolesterol #mitos #kurban #jantung koroner #umat #hipertensi #kesehatan #hari raya #muslim #lemak #phobia #sapi #ibadah #jurnal #stroke #idul adha #omega-3 #kambing #protein #darah tinggi #daging #kalori #jantung