Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Ketika Anak Pendek Dianggap Takdir: Membedah Akar Stunting di Indonesia

Admin • Minggu, 8 Juni 2025 | 22:43 WIB

 

Ilustrasi stunting
Ilustrasi stunting

Opini oleh: Prima Trisna Aji*

MENDENGAR kata stunting, maka kita akan ingat tentang gizi buruk. Kalimat Stunting semakin sering kita dengar di radio atau televisi, sering juga kita baca di media cetak maupun online. Apalagi kini pemerintah terus menggencarkan upaya penanganan stunting yang berada di Indonesia. 

Tidak hanya itu, stunting bahkan menjadi lahan empuk ajang kampanye para presiden, kepada daerah. Mulai dari Gubernur, walikota atau Bupati.

Mirisnya, kasus stunting di Indonesia menduduki peringkat tertinggi di wilayah Asia Tenggara. Sedangkan peringkat kedua diisi oleh Timor Leste dan Myanmar pada peringkat ketiga. Data ini juga didukung oleh data dari UNICEF dimana menempatkan negara Indonesia pada peringkat 50 besar dari 190 negara pada kasus stunting. 

Kementerian Kesehatan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024-2025, menunjukkan bahwa beberapa kota di Indonesia mencatat angka stunting anak balita yang masih mengkhawatirkan. Kondisi itu terjadi pada wilayah perekonomian yang rendah, wilayah kemiskinan tinggi, dan sulitnya mengakses layanan Kesehatan dasar. Dimana peringkat pertama kota menduduki peringkat tertinggi stunting adalah kota Jayapura di Papua, Kota Palembang di Sumatera Selatan, dan Kota Makassar di Sulawesi Selatan. 

Di Nusa Tenggara Barat, sebuah keluarga hanya mampu memberikan makanan bubur encer ditambah sedikit penyedap rasa kepada seluruh anggota keluarga, termasuk bagi sang bayi. Padahal hal itu berdampak seumur hidup bagi bayinya. Bahkan ketika dikunjungi oleh Petugas Kesehatan dan mengetahui anaknya pendek, ibu rumah tangga itu hanya pasrah dan menyampaikan bahwa: “Anak saya pendek karena sudah takdir”.

Hal seperti ini sangat memprihatinkan. Pemahaman masyarakat terhadap stunting masih kurang. Mereka menganggap bahwa semua itu sudah takdir. Padahal hal tersebut bisa diubah sejak dini apabila diberikan edukasi yang adekuat tentang kondisi pada anaknya tersebut. 

Kalau kita mau menilik ke belakang, bahwa istilah “Anak Pendek karena takdir” adalah ungkapan setiap hari yang sering diucapkan pada setiap keluarga yang memiliki kesadaran kesehatan yang kurang. Sehingga mitos seperti ini layaknya bisa dilawan dengan penerapan edukasi yang baik bagi keluarga yang beresiko terkena Stunting. 

Stunting: Bukan Takdir, Tapi Ketimpangan yang Terstruktur

Penelitian terbaru dari Status Gizi Indonesia pada Tahun 2023 yang dirilis oleh Kemenkes menyatakan bahwa Tingkat prevalensi Stunting pada Balita persentasenya sangat jauh dari standar yang sudah ditetapkan oleh WHO. Dimana data ini menunjukkan bahwa banyak jutaan anak-anak yang terancam stunting. 

Padahal kalau kita mau menelisik lebih dalam, efek dari stunting ini tidak hanya menyebabkan gagal tumbuh seperti tinggi anak yang pendek saja, melainkan juga bisa menyebabkan penurunan sistem imun pada Balita, beresiko tinggi terkena penyakit kronis seperti Diabetes Mellitus, Gizi Buruk, malnutrisi dan tekanan darah tinggi ketika sudah dewasa. Bahkan ancaman penyakit jantung koroner setiap tahun akan terus semakin meningkat.

Hal ini belum dilihat dari segi ekonomi, dimana keluarga yang menderita Stunting apabila dibiarkan terus menerus maka akan bisa melanjutkan kemiskinan antar generasi. Sehingga memutus mata rantai kemiskinan ini akan menjadi sulit, dikarenakan uang akan habis untuk berobat pada anak.

Pemicu stunting bukan hanya karena faktor ekonomi saja, tetapi juga kesadaran akan kesehatan pada keluarga yang kurang. Selain itu faktor akses pelayanan Kesehatan yang tidak terjangkau menambah masalah Kesehatan stunting yang makin pelik. Masyarakat sulit berobat karena akses kesehatan jauh dan sulit diakses.

Sementara, di wilayah perkotaan kasus stunting muncul karena pola konsumsi masyarakat yang tidak sehat. Meski asupan nutrisi dan gizi mudah diakses, masih ada masyarakat yang memilih mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Seperti mengonsumsi makanan cepat saji, memilih minuman tinggi gula serta kurang konsumsi sayur mayur dan buah-buahan. Ditambah lagi kebiasaan berolahraga yang berkurang.

Solusi Stunting Tak Bisa Parsial: Harus Menyeluruh dan Sistemik

Untuk mengatasi masalah stunting ini tidak hanya bisa dilakukan dalam satu lintas atau satu departemen saja, melainkan harus dilakukan secara komprehensif atau secara menyeluruh. Lintas sektor serta lintas level diperlukan untuk mengatasi masalah stunting hingga tuntas ke akarnya. 

Pemangku pengambilan kebijakan tertinggi seperti Presiden harus menjadi garda terdepan untuk mencanangkan kampanye nasional pencegahan stunting dan dibantu antar lintas sektor seperti Kementrian Kesehatan, Kementrian Pendidikan, Kementrian pertanian dari provinsi, kabupaten, Tingkat desa, Tingkat RW, Tingkat RT hingga sampai ke Tingkat keluarga.

Beberapa Solusi strategi yang bisa dilakukan antara lain :

1. Melakukan edukasi Gizi sebelum kelahiran Bayi

Program edukasi tentang gizi yang baik harus dilakukan secara massif serta terstruktur serta diperluas dari ketika seorang tersebut akan menikah, menjadi calon ibu, ketika hamil, ketika melahirkan hingga bayi tersebut lahir hingga Balita. Peran seperti Kader, Posyandu, PKK, Tingkat Desa Hingga Kecamatan sampai kabupaten harus bisa melaksanakan hal tersebut secara konsisten. 

Edukasi tentang pentingnya pemberian gizi yang baik ketika menjadi ibu hamil ASI eksklusif selama 2 tahun, MPASI (Makanan Pengganti ASI) yang tepat dan benar hingga pentingnya zat-zat bergizi vitamin yang baik untuk anak serta menarik harus terus digencarkan. Tentunya kampanye ini tidak hanya dilakukan sekali saja, tetapi secara masif dan terus menerus sehingga akan menjadi kampanye nasional secara masal.

2. Akses Pangan Lokal Bergizi

Kebiasan pemberian BLT (bantuan langsung tunai) merupakan salah satu kebijakan yang hanya membantu sementara, hal yang harus dilakukan pemerintah adalah memberikan masyarakat pancing supaya bisa memancing ikan secara mandiri. Hal ini bertujuan supaya masyarakat bisa berdikari serta meningkatkan perekonomian keluarga sehingga tingkat untuk mengakses pangan lokal bergizi menjadi lebih mudah. 

Pentingnya edukasi makanan sehat seperti empat sehat lima sempurna dengan kearifan lokal seperti tahu, tempe, telur, sayur bayam, susu terus digalakkan. Sehingga masyarakat semakin menyadari bahwa dengan mendorong konsumsi makanan lokal sehat maka akan meningkatkan ketahanan pangan keluarga.

3. Layanan Kesehatan Primer yang Tangguh

Perlu diketahui bahwa Puskesmas serta Posyandu merupakan garda terdepan dalam meningkatkan kesehatan Masyarakat. Fasilitas ini harus dilengkapi dengan peningkatan SDM tenaga kesehatan, baik dari sisi jumlah dan kualitas. Sehingga tenaga Kesehatan bisa mengambil kebijakan yang tepat apabila menemukan kasus stunting yang terjadi di Masyarakat. Kemudian pendataan serta pemantauan balita yang beresiko stunting harus digalakkan hingga ke tingkat RT.

4. Keterlibatan Dunia Pendidikan dan Pertanian

Tidak bisa dipungkiri bahwa dunia Pendidikan merupakan salah satu garda terdepan dalam membentuk generasi penerus pemimpin bangsa, dimana masyarakat yang cerdas dibentuk dari dunia pendidikan. Dari dunia Pendidikan bisa dilakukan penelitian yang terbaru bagaimana cara mencegah dan mengatasi stunting secara cepat dan modern. Selain itu kombinasi keterlibatan dunia pertanian sangat penting, hal ini dikarenakan dengan suplai pangan yang kuat serta distribusi yang merata serta murah maka akan bisa menjangkau ke seluruh wilayah pelosok Indonesia. Pelatihan pertanian bagi setiap keluarga didampingi secara intensif juga perlu dilakukan guna meningkatkan pangan pada setiap keluarga secara mandiri dan berdikari.

5. Transparansi Anggaran dan Evaluasi Program

Kasus yang memprihatinkan bagi negara Indonesia adalah tingginya Tingkat korupsi yang ada di Indonesia. Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perceptions Index atau CPI) pada tahun 2023 yang dirilis oleh Transparency International yang merupakan data paling terbaru hingga pertengahan tahun 2025 negara Indonesia termasuk menduduki peringkat atas. Anggaran stunting yang tidak transparan maka akan rawan untuk dikorupsi sehingga penanganan stunting tidak akan maksimal. Apalagi pernah viral bahwa dana penanganan stunting habis untuk kegiatan perencanaan, rapat, dan perjalanan dinas. 

Membangun Generasi yang Tumbuh, Bukan Sekadar Hidup

Pentingnya meningkatkan kesadaran tentang stunting perlu digalakkan. Kurangnya kesadaran tentang stunting akan meningkatkan prosentase resiko anak mengalami stunting. Selain itu penting menjelaskan kepada masyarakat bahwa stunting bukanlah takdir. Melainkan dipicu kesehatan masyarakat yang belum adil dan merata. Sehingga sinergitas antara keluarga. Masyarakat dan negara harus bersatu untuk menuntaskan stunting bersama-sama.

Tentunya kita tidak boleh berpuas diri sampai disini, bahwa generasi selanjutnya tidak hanya diciptakan untuk bertahan hidup saja. Melainkan membentuk mereka menjadi generasi yang tumbuh kembang baik, sehat, cerdas, berpendidikan dan tentunya produktif. Perlu diketahui bahwa semua anak yang dilahirkan di negara tercinta ini berhak untuk hidup yang layak serta mendapat masa depan yang layak. Hal ini harus dimulai dengan gizi yang baik semenjak dari janin, bayi, balita, remaja, hingga dewasa. (*)

 

*) Penulis adalah dosen pada Prodi Spesialis Medikal Bedah, Universitas Muhammadiyah Semarang.

Editor : Eka Prasetya
#indonesia #kampanye #gizi buruk #kesehatan #televisi #who #takdir #stunting #kementerian kesehatan #gizi #survei #radio #unicef #ekonomi #timor leste #myanmar #anak