RadarBuleleng.id – RSUP Prof. I.G.N.G. Ngoerah, Sanglah, Denpasar, kembali mencatat terobosan di dunia medis.
Rumah sakit rujukan terbesar di Bali dan Nusa Tenggara ini resmi menerapkan layanan biopsi prostat robotik yang terintegrasi dengan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dengan metode canggih tersebut, pengambilan sampel jaringan prostat kini dilakukan secara lebih akurat, presisi, dan minim resiko.
RSUP Prof Ngoerah menjadi rumah sakit kedua di Indonesia yang mengadopsi teknologi tersebut.
Dokter spesialis urologi di RSUP Prof. Ngoerah, dr. I Wayan Yudiana, Sp.U menjelaskan, sistem robotik yang digunakan mampu menggabungkan data MRI dan USG (fusion biopsy) untuk mendeteksi lesi kanker tersembunyi, termasuk pada bagian anterior prostat yang sulit dijangkau.
“Teknologi ini memungkinkan pengambilan sampel tepat di area lesi yang ditargetkan oleh MRI. Akurasinya jauh lebih tinggi dibanding metode biopsi manual,” ujar dr. Yudiana.
Ia menyebut, biopsi prostat robotik memiliki tingkat deteksi kanker signifikan sebesar 43 persen, lebih tinggi dibanding biopsi konvensional (36 persen).
Keunggulan lain, sistem ini menggunakan pendekatan transperineal—jarum dimasukkan melalui kulit di antara skrotum dan anus—sehingga mengurangi risiko infeksi dan komplikasi.
“Prosedur ini aman, ditoleransi dengan baik, dan meminimalkan risiko infeksi karena tidak melalui dinding rektum. Bahkan, profilaksis antibiotik bisa diabaikan. Tingkat komplikasi sangat rendah, hanya 14 persen komplikasi ringan (grade I Clavien-Dindo),” terangnya.
Selain itu, metode robotik ini juga efisien dari segi waktu. Proses pengambilan sampel hanya memakan waktu sekitar 30–45 menit, dan pasien dapat pulih lebih cepat dibanding metode tradisional.
Sebelum hadirnya sistem robotik, prosedur biopsi prostat umumnya dilakukan dengan dua cara. Yakni transrektal (melalui dinding dubur) dan transperineal (melalui kulit perineum).
Teknik transrektal berisiko infeksi tinggi karena jarum melewati area yang mengandung bakteri, sedangkan transperineal lebih aman namun tetap membutuhkan panduan manual yang berpotensi kurang presisi.
“Dengan bantuan sistem robotik dan AI, kini semua itu bisa dioptimalkan. Kami berharap inovasi ini membawa manfaat besar bagi deteksi dini kanker prostat di Indonesia, khususnya di Bali,” tutup dr. Yudiana. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya