Opini oleh Prima Trisna Aji*
SETIAP tanggal 17 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebudayaan Nasional. Momen ini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni mengenang warisan masa lalu, tetapi juga ajakan untuk menengok kembali nilai-nilai luhur yang masih relevan bagi kehidupan hari ini. Salah satunya adalah kesehatan.
Dalam kebudayaan Nusantara, hidup sehat bukan sekadar bebas dari penyakit, melainkan keseimbangan antara raga, pikiran, dan lingkungan sebuah konsep yang jauh lebih dalam dari sekadar angka tekanan darah atau kadar kolesterol.
Di berbagai daerah, kita sesungguhnya memiliki kearifan lokal yang mengajarkan gaya hidup sehat alami. Leluhur kita terbiasa berjalan kaki ke sawah, bekerja dengan tubuh yang terus bergerak, dan makan dari hasil bumi sendiri yang segar tanpa pengawet.
Mereka tidak mengenal istilah “workout” atau “detoks”, tetapi keseharian mereka telah menjadi bentuk olahraga dan terapi alami. Sementara kini, di tengah kehidupan serba cepat, masyarakat kota justru terjebak pada pola hidup duduk terlalu lama, kurang bergerak, dan terlalu bergantung pada makanan instan.
Paradoks ini menunjukkan bahwa modernisasi seringkali memutus hubungan kita dengan akar budaya sehat sendiri. Padahal, dalam tradisi-tradisi Nusantara tersimpan banyak ajaran yang sejalan dengan ilmu kesehatan modern.
Misalnya, masyarakat Jawa mengenal ilmu pranatan urip, filosofi hidup teratur yang menekankan keseimbangan antara istirahat, makan, dan batin.
Di Bali, ada Tri Hita Karana konsep harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan yang secara ilmiah dapat diartikan sebagai keseimbangan biopsikososial-spiritual.
Di Sulawesi dan Kalimantan, tradisi gotong royong tidak hanya mempererat sosial, tetapi juga membangun imunitas sosial yang memperkuat kesehatan mental kolektif.
Menariknya, sejumlah penelitian terbaru justru membuktikan bahwa kearifan lokal memiliki pengaruh nyata terhadap kesehatan masyarakat. Penelitian dari Universitas Gadjah Mada tahun 2023 menemukan bahwa pola makan tradisional berbasis pangan lokal seperti umbi, sayuran daun, dan lauk nabati mampu menurunkan risiko penyakit degeneratif hingga 25 persen dibanding pola makan modern tinggi lemak jenuh.
Sementara itu, riset Universitas Indonesia pada tahun 2024 tentang aktivitas fisik berbasis budaya lokal seperti tari tradisional dan permainan rakyat menunjukkan peningkatan kebugaran kardiovaskular dan penurunan tekanan darah pada lansia di komunitas pedesaan Jawa Tengah.
Tak kalah menarik, studi dari WHO-SEARO Asia Tenggara tahun 2023 menegaskan bahwa penguatan nilai budaya dan sosial-komunitas terbukti memperbaiki kesehatan mental masyarakat pascapandemi melalui rasa kebersamaan, makna hidup, dan kepercayaan pada komunitas lokal.
Begitu pula dalam urusan obat-obatan. Jauh sebelum industri farmasi modern berkembang, nusantara telah mengenal jamu, ramuan herbal, dan ritual penyembuhan berbasis alam. Kini, penelitian di berbagai universitas Indonesia menemukan bahwa ekstrak kunyit, jahe, dan temulawak memiliki efek antiinflamasi dan antioksidan yang signifikan setara dengan beberapa obat sintetik ringan.
Artinya, warisan ini bukan sekadar “mitos tradisional”, melainkan bentuk pengetahuan empiris yang memiliki dasar ilmiah kuat.
Namun, dalam arus globalisasi, warisan tersebut perlahan tergeser oleh budaya praktis dan konsumtif. Masyarakat lebih percaya pada iklan suplemen impor daripada resep nenek sendiri.
Nilai-nilai kebersamaan digantikan individualisme; olahraga tradisional seperti pencak silat, egrang, dan tari daerah mulai ditinggalkan, padahal kegiatan itu dulu menjadi cara alami menjaga kebugaran dan ketahanan tubuh.
Kita mulai kehilangan bukan hanya budaya, tetapi juga imunitas sosial dan spiritual yang selama ini menopang bangsa.
Karena itu, peringatan Hari Kebudayaan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan budaya sehat ke dalam kehidupan modern. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja bersama. Sekolah bisa memperkenalkan kembali permainan tradisional yang aktif dan sehat, fasilitas kesehatan bisa mengintegrasikan jamu dan pendekatan budaya dalam promosi kesehatan, media bisa mengangkat kisah inspiratif tentang komunitas yang menjaga gaya hidup tradisional di tengah arus zaman.
Solusi dan Jalan Ke Depan
Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan tiga langkah strategis. Pertama, pendidikan berbasis budaya sehat diintegrasikan dalam kurikulum sejak dini, agar anak-anak mengenal pentingnya makanan alami dan aktivitas tradisional.
Kedua, kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Kebudayaan perlu diperkuat untuk mendukung riset dan promosi gaya hidup berbasis kearifan lokal.
Ketiga, pemberdayaan masyarakat melalui komunitas local mulai dari posyandu, sanggar seni, hingga desa wisata harus difasilitasi agar budaya sehat tidak sekadar dipertontonkan, tetapi benar-benar dihidupi.
Lebih dari itu, perubahan sejati dimulai dari diri sendiri. Kita bisa mulai dengan langkah kecil. Caranya dengan memilih makanan alami, berjalan kaki ke tempat dekat, menyapa tetangga, atau sekadar meluangkan waktu menenangkan pikiran di alam. Hal-hal sederhana itu sesungguhnya adalah bentuk penerapan kebudayaan sehat yang diwariskan leluhur kita.
Pada akhirnya, menjaga budaya berarti juga menjaga kesehatan bangsa. Kita tidak perlu mencari resep sehat ke luar negeri, karena jawabannya sudah ada di tanah sendiri di dapur nenek, di kebun belakang rumah, di gotong royong kampung, dan di kearifan yang diwariskan tanpa pamrih. Warisan sehat dari leluhur menunggu untuk kita hidupkan kembali.
*) Penulis adalah Dosen pada Prodi Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya