Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Prevalensi Stunting Bali Naik, Buleleng Catat Angka Tertinggi

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 13 November 2025 | 17:53 WIB

 

Ilustrasi stunting
Ilustrasi stunting

RadarBuleleng.id - Kabar mengejutkan datang dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. 

Angka stunting di Provinsi Bali naik menjadi 8,7 persen, dari sebelumnya 7,2 persen pada 2023. 

Kenaikan tersebut cukup mencolok, mengingat Bali dikenal sebagai destinasi wisata dunia, namun masih menyisakan persoalan gizi di kalangan balita.

Yang paling mencuri perhatian, Kabupaten Buleleng mencatat angka stunting tertinggi di Bali, mencapai 14,8 persen. Disusul Karangasem 13 persen, dan Kota Denpasar 10,4 persen. 

Sementara kabupaten lain relatif lebih rendah, seperti Jembrana dan Tabanan 7,5 persen, Badung 7,2 persen, Bangli 8,3 persen, Gianyar 5,4 persen, dan Klungkung 5,2 persen.

Kendati secara nasional Bali masih berada di jajaran provinsi dengan angka stunting terendah, kondisi di Buleleng tetap menjadi alarm bagi pemerintah daerah.

Baca Juga: Tiga Buruh Terseret Air Bah di Jembrana Bali. Satu Tewas, Seorang Lagi Masih Hilang

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Nyoman Gede Anom mengatakan, data yang dirilis SSGI merupakan data prevalensi, bukan angka riil kasus stunting. 

Artinya, angka tersebut juga memperhitungkan indikator non-gizi seperti akses jamban, air bersih, serta faktor keluarga yang tidak mengikuti program keluarga berencana.

“Kalau dari data riil kami, angka stunting di Bali sebenarnya hanya 5,9 persen atau turun dari 7,2 persen tahun lalu. Tapi karena SSGI memakai pendekatan prevalensi, angkanya jadi naik di 8,7 persen,” jelas Anom, saat ditemui di Dinas Kesehatan Bali.

Untuk memastikan keakuratan data, Pemprov Bali kini melakukan pengukuran ulang terhadap 189 ribu balita di seluruh kabupaten/kota. 

Sensus dilakukan hingga 14 November 2025, sebagai pengganti survei pusat yang tidak dilaksanakan tahun depan.

“Kami ingin pastikan data yang kami punya betul-betul valid. Karena tahun 2025 tidak ada survei dari pusat, jadi kami lakukan sendiri di seluruh Bali,” imbuhnya.

Anom juga menyoroti tingginya angka prevalensi di Kota Denpasar yang mencapai 10,4 persen. Ia menyebut, faktor migrasi penduduk menjadi penyebab utama ketimpangan data.

“Banyak pendatang di Denpasar yang tidak memiliki tempat tinggal tetap, sehingga tercatat dalam data prevalensi. Kalau data riilnya, stunting di Denpasar sebenarnya hanya sekitar 1,5 persen,” terangnya.

Meski demikian, perhatian kini tertuju pada Buleleng yang menjadi daerah dengan angka tertinggi. 

Pemerintah provinsi pun mendorong Pemkab Buleleng memperkuat intervensi gizi, sanitasi, serta pendampingan keluarga berisiko stunting agar target Bali bebas stunting bisa tercapai lebih cepat. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#wisata #keluarga berencana #bali #dinas kesehatan #SSGI #kesehatan #balita #keluarga #air bersih #stunting #gizi #survei #Prevalensi #buleleng