RadarBuleleng.id - Aksi teror terhadap Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kota Denpasar dinilai tak sekadar tindak kriminal biasa.
Direktur Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Bali, I Made “Ariel” Suardana atau IMAS, menduga insiden tersebut sarat muatan politik.
Menurut IMAS, peristiwa itu sulit dilepaskan dari dinamika politik yang sedang berkembang, termasuk isu pelaporan Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara ke Mabes Polri yang mencuat dua hari sebelumnya.
”Kalau kita lihat subyek yang berhadapan dengan kasus ini kan Saifullah Yusuf (Mensos) dengan Jaya Negara. Ini saya agak bingung, karena Walikota Denpasar tidak ngantor di sana (Kantor BPJS). Kenapa juga pelaku tidak melempar kantor Walikota Denpasar sekaligus memasang spanduk ‘Walikota Pembohong’? Kan pesannya langsung sampai,” ujar IMAS.
Ia menilai sasaran aksi yang justru mengarah ke kantor BPJS menimbulkan tanda tanya besar.
”Ini agak janggal kan, ini bukan murni kriminal. Ini bermotif politik. Dengan tujuan memanas-manasi keadaan,” tegasnya.
IMAS juga meragukan pelaku merupakan kelompok remaja atau geng motor yang bertindak spontan. Ia menilai pola aksi terlihat terencana dan terukur.
”Kalau polisi gagal mengungkap pelakunya dan gagal mengungkap motifnya ini jelas orangnya terlatih. Bukan geng motor tanpa alasan, atau kenakalan anak muda yang bisa ditebak ke mana arah larinya,” katanya.
Ia bahkan membandingkan kasus ini dengan perusakan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa beberapa tahun lalu yang tak pernah terungkap pelakunya.
”Saya jadi ingat kasus perusakan baliho ForBali dulu, baliho Tolak Reklamasi Teluk Benoa dirusak apalagi jelang kedatangan Jokowi dan tak satupun pelaku bisa diendus apalagi ditangkap sampai hari ini. Hanya hitungan menit saja waktu baliho dirusak meskipun dipasang dekat keramaian dan CCTV pun tak bisa menjawabnya sama sekali,” ungkap IMAS.
Menurutnya, dalam kasus Kantor BPJS Denpasar, pelaku diduga ingin menjaga agar isu tetap panas, bahkan mendorong konflik antara walikota dan menteri berkembang ke arah politik yang lebih tajam.
”Jadi menurut saya dalam kasus Kantor BPJS Denpasar tujuan pelaku adalah ingin mempertahankan isu ini, atau dengan sengaja menjadikan konflik Walikota versus Menteri ini berkembang ke arah politik yang lebih akut,” ujarnya.
Ia menegaskan, aksi teror semacam ini berpotensi menaikkan tensi politik di Kota Denpasar.
”Yang jelas teror meneror begini menaikkan tensi politik dan ketegangan di Denpasar,” katanya.
IMAS juga mempertanyakan keberanian pelaku yang tidak melakukan aksi serupa di kantor wali kota.
”Kalau pelakunya kok nggak berani pasang spanduk di depan kantor wali kota, apa karena kantornya berada di pusat keramaian? Yang jelas sampai dengan tujuh hari polisi nggak bisa ungkap pelaku yang merusak dan meneror kantor BPJS maka dipastikan orangnya bukan orang biasa-biasa,” ucapnya.
Disisi lain, ia menilai situasi tersebut justru berpotensi memunculkan simpati publik terhadap Wali Kota Denpasar.
”Jaya Negara pun bak dapat durian runtuh karena simpati berdatangan silih berganti,” tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, belasan orang mengenakan helm dan masker datang menggunakan sepeda motor dan memasang dua spanduk bertuliskan “Walikota Pembohong” di pintu masuk dan keluar kantor BPJS.
Mereka juga melempari area depan kantor dengan batu, meski tidak sampai menyebabkan kerusakan berarti.
Kapolsek Denpasar Timur, Kompol I Ketut Tomiyasa menyatakan kasus masih dalam penyelidikan. ”Masih dalam penyelidikan,” singkatnya.
Polisi telah mengamankan barang bukti berupa batu dan spanduk yang ditinggalkan pelaku serta memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi. Hingga kini, motif pasti di balik aksi tersebut masih didalami. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya