SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Kasus meningitis kembali menjadi perhatian di Kabupaten Buleleng, Bali.
Saat ini, sedikitnya lima pasien tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Buleleng. Meski demikian, pihak rumah sakit memastikan jumlah tersebut masih dalam batas wajar dan belum menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur RSUD Buleleng, dr. Ketut Suteja Wibawa menjelaskan, penyakit meningitis yang paling sering ditemukan adalah meningitis bakterial, yakni peradangan pada selaput otak (meningen) akibat infeksi bakteri.
Namun, yang patut diwaspadai adalah Meningitis Suis. Penyakit ini merupakan infeksi serius yang disebabkan bakteri Streptococcus suis.
Penyakit tersebut termasuk zoonosis, yakni menular dari hewan—khususnya babi—ke manusia. Penularan umumnya terjadi akibat konsumsi daging atau darah babi mentah, maupun kontak langsung melalui luka terbuka.
Penyakit tersebut dinilai lebih berbahaya karena dapat memicu komplikasi berat seperti kelumpuhan hingga kematian.
“Meningitis bakterial biasanya karena infeksi bakteri yang mengenai selaput otak (meningen). Sejauh ini yang kami rawat tidak ada yang meningitis suis,” jelas dr Suteja, Jumat (27/2/2026).
Ia menegaskan, tidak seluruh kasus meningitis berkaitan dengan pola konsumsi makanan. Namun masyarakat tetap diminta waspada, terutama terhadap konsumsi daging babi yang tidak diolah secara higienis dan matang sempurna.
Menurutnya, makanan tradisional berbahan darah mentah seperti lawar getih berisiko tinggi karena bakteri masih dapat bertahan hidup bila proses pengolahan tidak maksimal.
“Sekarang tidak disarankan makan makanan mentah seperti lawar getih. Harus dimasak dengan benar. Penularannya bisa lewat bahan makanan, terutama daging babi yang pengolahannya kurang bagus,” tegasnya.
Lebih lanjut dijelaskan, kasus meningitis yang berkaitan dengan infeksi dari hewan masuk kategori kewaspadaan khusus dan wajib dilaporkan melalui sistem surveilans (SKDR).
Hal ini penting untuk mengantisipasi potensi kejadian luar biasa (KLB) apabila terjadi peningkatan kasus secara tiba-tiba.
Secara umum kasus meningitis bakterial di Buleleng masih terkendali. Sebagian besar pasien dapat pulih dengan penanganan medis intensif.
Kendati begitu, risiko gejala sisa tetap ada, tergantung tingkat keparahan infeksi. Berbeda dengan meningitis suis yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti gangguan pendengaran permanen.
Menjelang hari raya yang identik dengan meningkatnya konsumsi daging babi di Bali, dr Suteja mengingatkan masyarakat agar lebih disiplin dalam mengolah makanan.
“Pastikan makanan dimasak benar-benar matang. Kalau membuat lawar, darahnya juga harus dimasak. Mumpung belum ada lonjakan kasus, kita cegah dari sekarang,” pesannya.
Ia juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, sakit kepala hebat, kaku leher, penurunan kesadaran, atau kejang—terutama setelah mengonsumsi makanan berisiko. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya