Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Demam Berdarah Renggut Balita di Buleleng, Dinkes Himbau Masyarakat Lakukan PSN

Eka Prasetya • Senin, 13 April 2026 | 16:57 WIB
Waspada demam berdarah
Waspada demam berdarah

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Kasus meninggalnya balita akibat demam berdarah dengue (DBD) di Lingkungan Banyuning Timur, Kelurahan Banyuning, Kabupaten Buleleng, Bali, menjadi sorotan publik.

Munculnya kasus tersebut, langsung ditindaklanjuti Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng. Hasil penyelidikan epidemiologi (PE) menemukan adanya jentik nyamuk di sekitar rumah korban.

Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, dr. Sucipto, mengungkapkan pihaknya sempat menerima informasi kasus tersebut dalam kondisi terlambat. Bahkan, saat tim turun ke lapangan, jenazah korban sudah akan dimakamkan.

“Dari kasus ini kami dapat informasi yang terlambat, tapi kami langsung bertindak. Kami menurunkan tim surveilans dari puskesmas dan dinas,” ujar Sucipto saat ditemui di ruang kerjanya pada Senin (13/4/2026).

Setelah dilakukan penyelidikan, petugas menemukan beberapa titik jentik nyamuk di lingkungan rumah korban. Temuan tersebut menjadi indikasi kuat adanya potensi penularan DBD di wilayah tersebut.

“Dari hasil PE (Penyelidikan Epidemiologi), kami dapat beberapa jentik di rumahnya. Selanjutnya kami telusuri tetangga sekitar, tidak ada yang demam. Dengan adanya temuan jentik, langsung kami lakukan fogging selektif,” jelasnya.

Meski demikian, Sucipto menegaskan bahwa fogging bukan solusi utama dalam penanganan DBD. Sebab fogging hanya membunuh nyamuk dewasa.

Upaya paling efektif tetap pada pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang harus dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.

Sebab dalam kasus demam berdarah, jentik dinilai paling berbahaya. Jentik akan tumbuh menjadi nyamuk dewasa dalam hitungan hari, lalu menyebarkan demam berdarah.

“Yang paling efektif, efisien dan murah, itu kan PSN. Kami mendorong agar masyarakat bergerak melakukan PSN. Fokusnya bukan lagi fogging,” tegasnya.

Ia juga mengakui wilayah Banyuning memang kerap menjadi kantong kasus DBD, terutama saat musim penghujan. 

Kondisi permukiman padat penduduk serta perubahan cuaca ekstrem menjadi faktor pemicu meningkatnya kasus.

“Kalau melihat kasus ini, kenapa Banyuning sering terjadi, memang kasus DBD ini banyak terjadi di perumahan padat penduduk. Kemudian faktor cuaca ekstrem, munculnya DBD ini di musim penghujan,” paparnya.

Selain itu, efektivitas kegiatan gotong royong di masyarakat juga dinilai masih kurang optimal. Padahal, berbagai upaya edukasi dan promosi kesehatan telah dilakukan sebelumnya.

Ke depan, Dinkes Buleleng akan berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan perangkat wilayah untuk memperkuat penanganan, termasuk menggerakkan masyarakat dalam kegiatan PSN.

“Kami harap ada perubahan perilaku masyarakat, sehingga kebersihan di lingkungan bisa meningkat. Untuk memobilisasi masyarakat ini memang jadi PR, makanya kami kerja sama dengan kepala wilayah,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang balita perempuan, Kadek Giara Dwitya Pradyanti, 4, meninggal dunia pada Selasa (7/4/2026) setelah menjalani perawatan intensif akibat dugaan DBD. 

Hingga Kamis (9/4/2026), Dinas Kesehatan Buleleng mencatat ada 109 kasus demam berdarah di Buleleng. Dari seratusan kasus tersebut, seorang diantaranya meninggal. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kesehatan #balita #puskesmas #demam berdarah #buleleng