RadarBuleleng.id - Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat sebanyak 2.039 temuan kasus baru HIV sepanjang 2025.
Dinkes mengklaim angka tersebut mencerminkan semakin optimalnya sistem deteksi dini yang kini mampu menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, menjelaskan tingginya angka tersebut tidak sepenuhnya berasal dari warga Bali.
Sekitar 31 persen pasien tercatat merupakan pendatang dari luar daerah yang memilih menjalani pengobatan di Bali.
"Ada 31 persen yang dari luar Bali. HIV itu sebenarnya kalau lihat kenapa angkanya terlihat tinggi di Bali, itu karena data yang tercatat adalah setiap pasien yang mengakses pengobatan di sini. Kenyataannya memang banyak sekali pasien-pasien dari luar Provinsi Bali yang mengakses pengobatan di Bali, karena memang mungkin mereka merasa lebih nyaman dan privasinya terjaga di sini," terang Raka.
Sebagai destinasi pariwisata internasional, Bali juga menjadi tempat tinggal bagi warga negara asing (WNA) yang turut memanfaatkan fasilitas kesehatan.
Hingga 2026, tercatat 14.314 orang dengan HIV (ODHIV) aktif menjalani terapi antiretroviral virus (ARV).
Namun demikian, jumlah tersebut masih berada di bawah target nasional. Pemerintah pusat menetapkan target penemuan dan penanganan kasus HIV di Bali mencapai 27.081 orang.
Artinya, masih terdapat kesenjangan yang harus dikejar melalui upaya skrining dan penjangkauan aktif.
Untuk mempercepat penemuan kasus, Dinkes Bali menggandeng berbagai yayasan dan komunitas.
Kolaborasi ini berperan penting dalam mendampingi pasien, mulai dari proses identifikasi hingga mengarahkan mereka mendapatkan layanan kesehatan.
"Jadi rekan-rekan di yayasan inilah yang membantu mobilisasi teman-teman penyandang, mulai dari pendampingan saat temuan kasus hingga mengajak ke fasilitas kesehatan. Untuk akses pengobatan sendiri, seluruh Puskesmas dan RSUD di Bali sudah siap memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan," bebernya.
Di sisi pencegahan, edukasi mengenai pola penularan terus digencarkan. Penularan HIV umumnya terjadi melalui hubungan seksual berisiko dan kontak dengan cairan tubuh.
"Jadi fokus kita adalah memberikan edukasi bagaimana menjaga diri agar tetap aman, misalnya dengan tidak berganti-ganti pasangan atau menggunakan pelindung. Itu memang kuncinya," katanya.
Selain itu, kepatuhan menjalani pengobatan menjadi faktor penting dalam menekan penyebaran virus.
Pemeriksaan viral load secara berkala diperlukan untuk memastikan virus dalam tubuh pasien tetap terkendali.
"Jika virus sudah tidak aktif, hal ini menjadi kunci agar penyandang HIV tidak menularkan virus kepada pasangannya dan tetap bisa menjaga kualitas hidup yang sehat selama masa pengobatan," pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya