SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Petani mangga harum manis di Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, dipastikan gigit jari.
Kemarau basah menyebabkan para petani tidak bisa memanen hasil. Kalau toh bisa panen, maka petani dipastikan beruntung.
Musim kemarau yang diikuti dengan curah hujan tinggi saat ini, menyebabkan mangga gagal berbunga. Apabila berbunga, biasanya bunga mangga rontok gara-gara diguyur hujan.
Kepala Desa Depeha, Gede Srinyarnya mengatakan, cuaca ekstrem yang terjadi pada tahun ini membuat para petani gelisah.
“Memang kendalanya cuaca. Tiap kembang, bunganya rontok. Akhirnya lama-lama tidak bisa berbuah,” katanya.
Selama sebulan belakangan, hujan kerap turun. Meski petani sudah melakukan pemupukan, menyemprotkan pestisida, hingga melakukan perlakuan khusus, hal itu diyakini tidak membuahkan hasil.
“Saya berani bilang tahun ini 80 persen gagal. Ya kalau ada yang bisa panen tahun ini, artinya sedang beruntung,” jelasnya.
Pada musim panen raya, para petani mangga bisa menghasilkan antara 300 ton hingga 500 ton mangga. Saat pasokan melimpah, mangga di Desa Depeha akan mengalir hingga Probolinggo, Jawa Timur.
Namun pada tahun ini, Srinyarnya memprediksi hasil panen para petani hanya berkisar pada angka 10 ton dalam satu desa.
“Tahun ini karena kemarau basah, bisa panen sampai 10 ton saja sudah syukur,” ungkap Srinyarnya.
Dengan kondisi tahun ini, ia memprediksi mangga di Desa Depeha baru akan panen pada bulan Oktober mendatang.
Meski hasil panen tidak memuaskan, pihak desa meyakini harga mangga akan naik tajam. “Tahun lalu itu di tingkat petani bisa tembus Rp 48 ribu per kilogram. Sekarang semakin sedikit hasilnya, bisa jadi semakin mahal,” demikian Srinyarnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya