SAWAN, RadarBuleleng.id - Di balik kepulan asap dan aroma sedap dari warung ikan bakar yang kini jadi favorit banyak orang, tersimpan kisah haru penuh perjuangan sepasang suami istri yang tak pernah lelah mengejar mimpi.
Dari keringat yang menetes dan doa yang tak kunjung putus, mereka membangun usaha dari nol hingga kini dikenal luas masyarakat.
Ini kisah tentang Warung Ikan Bakar Bokir yang terletak di tepi Pantai Kerobokan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. Mereka menawarkan berbagai olahan laut dengan cita rasa otentik yang memanjakan lidah sebagai menu utama.
Keistimewaan warung ini bukan hanya terletak pada kelezatan masakannya, tetapi juga pada pelayanan hangat dan suasana kekeluargaan yang diciptakan oleh pemilik warung.
Tak heran, pelanggan datang silih berganti. Bukan hanya menikmati makanan lezat, tetapi juga untuk merasakan keramahan dan kehangatan. Hal tersebut membuat siapa pun betah berlama-lama di Warung Bokir.
Eksistensi Ikan Bakar Bokir di khazanah kuliner Bali Utara tak lepas dari sosok pasangan suami istri Nyoman Sumanasa dan Putu Ayu Darmini yang berasal dari Desa Kerobokan, Buleleng. Perjuangan keduanya di bisnis kuliner bukanlah hal mudah.
Semua dimulai pada tahun 2004 silam. Awalnya Ayu mencoba berjualan kecil-kecilan sambil menunggu suaminya, yang punya hobi memancing. Dengan modal Rp 1 juta ia memberanikan diri membuka usaha. Uang Rp 500 ribu digunakan untuk menyewa warung, dan Rp 500 ribu lagi untuk membeli es, kopi, dan snack.
Sumanasa kemudian mengusulkan agar istrinya juga mencoba berjualan jagung bakar di tepi pantai. Mereka pun memberanikan diri mengajukan tambahan modal hasil pinjaman dari Lembaga Perkreditan Desa (LPD).
Berjualan di pinggir Pantai Kerobokan bukan hal yang mudah. Pembeli hanya datang dari kalangan nelayan. Saat itu sang suami belum punya penghasilan tetap. Hanya mengandalkan hasil memancing untuk kebutuhan sehari-hari.
Ditambah lagi mereka harus merawat kedua orang tua yang jatuh sakit. Ayu nyaris menyerah. Namun ibunya selalu memberi semangat agar tetap berjualan sembari mengasuh anak-anaknya.
Suatu ketika, Desa Adat Kerobokan membuka pendaftaran untuk menyewa lima kios di tepi pantai. Pasutri tersebut memutuskan mendaftar. Meskipun belum punya gambaran akan berjualan apa, tapi mereka punya harapan tempat untuk memulai berjualan.
Saat pengundian, Ayu mendapatkan kios di bagian paling timur. Lokasi tersebut masih sepi pengunjung karena belum dikenal. Namun semuanya mulai berubah ketika Pemkab Buleleng mulai mengelola pantai menjadi objek wisata. Masyarakat pun mulai berdatangan di akhir pekan. Suasana menjadi lebih ramai, peluang pun makin terbuka.
Melihat potensi itu, Ayu berinisiatif membakar ikan hasil tangkapan Sumanasa, sambil tetap berjualan jagung. Ia mencoba meracik sendiri sambal dan bumbu-bumbu dengan pengetahuan seadanya. Awalnya, ikan dibakar menggunakan tusukan bambu. Tak disangka, ada pembeli yang memuji kelezatannya.
Seorang kakek yang menjadi pelanggan bahkan menyarankan agar Ayu mulai fokus berjualan ikan bakar karena ia yakin suatu hari warungnya akan banyak pembeli. Saran itu menjadi titik balik.
“Tahun 2005, saya mulai berjualan ikan bakar secara serius. Waktu itu harganya Rp25.000 per porsi. Langsung laku 10 porsi di hari pertama,” jelas Ayu.
Awal merintis usaha bukan hal mudah. Ayu belum terbiasa menyajikan makanan panas langsung dari panggangan. Peralatan belum lengkap, perabot pun dibeli dengan skema cicilan harian.
“Semua saya lakukan sambil tetap mengasuh anak. Tapi perlahan-lahan, usaha saya mulai berkembang. Saya terus mengembangkan resep sambal dan bumbunya secara otodidak,” ceritanya.
Suatu hari, datang pesanan mendadak sebanyak 40 porsi. Itu membuat Ayu panik. Sang suami pun berinisiatif segera membuat panggangan yang lebih besar dan membeli penjepit ikan. Sehingga tak perlu lagi menggunakan tusuk bambu. Bahkan Ayu sampai meminta bantuan pada keluarga di rumah untuk melayani pembeli.
Sosok kakek yang dahulu memberikan saran, kembali datang ke warung milik Ayu. Sang kakek menyebut jika masakan Ayu sudah tercium dari jauh. Ayu ingat betul jika kakek tersebut terus meyakinkan bahwa akan datang masa ketika mereka kewalahan melayani pembeli. Kakek itu juga berpesan agar Ayu dan keluarga tidak lupa berdoa dan sembahyang.
“Mungkin beliau itu penolong keluarga kami,” kata Ayu sambil tersenyum.
Berkat tekad yang kuat dan doa yang tak pernah putus, perlahan mereka mampu meringankan beban ekonomi keluarga. Dari hasil berjualan ikan bakar, kehidupan keluarga mereka mulai membaik. Ayu dan Sumasana bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga sukses. Kini kedua anak mereka telah berhasil meraih impian masing-masing.
Meski anak-anaknya sudah sukses, hal itu tidak mengurangi semangat Sumanasa dan Ayu dalam mengelola warung. Setiap hari mereka selalu menyambut pelanggan dengan senyum. Bagi mereka, warung ikan bakar bukan sekadar sumber penghasilan. Tapi juga bentuk rasa syukur dan wujud nyata dari kerja keras mereka bertahun-tahun.
“Selagi saya masih sehat dan mampu, saya akan tetap semangat bekerja,” ujar Sumanasa.
Kini, sudah lebih dari dua dekade. Warung Bokir tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga simbol dari sebuah perjalanan hidup dari sepasang suami istri di Bali Utara. (kontributor: Komang Septiana Dewi)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya