Mengenal Plongos, Kuliner Ikan Asap Pedas Manis Khas Pesisir Pengastulan

Eka Prasetya • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 15:30 WIB
KULINER KHAS: Suasana lapak plongos pada ajang Buleleng Festival 2026. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
KULINER KHAS: Suasana lapak plongos pada ajang Buleleng Festival 2026. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Desa Pengastulan di Kecamatan Seririt, Buleleng, tak hanya dikenal dengan deretan perahu nelayannya. 

Desa pesisir ini menyimpan kelezatan kuliner lokal nan memikat bernama “Plongos”. 

Makanan khas ini menyajikan gurihnya ikan segar hasil proses pengasapan yang disiram olahan sambal pedas-manis nendang.

Plongos lahir sebagai bentuk hilirisasi hasil tangkapan laut. Dibanding menjualnya utuh dalam keadaan mentah, kelompok perempuan dan istri nelayan di Pengastulan memilih mengolah sebagian ikan menjadi santapan siap saji berdaya jual tinggi.

Pelaku usaha muda asal Pengastulan, I Made Sri Wahyuni, 32, membeberkan rahasia kelezatan plongos yang membedakannya dari olahan ikan bakar biasa di Buleleng.

“Yang khas itu sambalnya pedas, nampol, dan mantap. Pedas, manis, dan aroma ikan asap. Di Buleleng kebanyakan orang jual ikan bakar, tapi kami bawa kekhasan Pengastulan,” ujar Sri Wahyuni yang juga bertugas di Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Buleleng.

Berbeda dari olahan ikan bakar umum, plongos tidak dimatangkan dengan kontak langsung di atas nyala api. Ikan dimatangkan murni mengandalkan kepulan asap panas selama 5 hingga 7 menit.

“Yang bikin matang itu asapnya, bukan apinya. Kalau pakai api, kadang pahit karena matangnya hitam. Kalau diasap, matangnya lebih merata,” terang Wahyuni.

Dahulu, plongos kerap menggunakan jenis ikan walang. Namun karena alasan tekstur duri yang tajam, kini pengolah beralih memanfaatkan ikan selayang pusuh atau ikan layang segar.

Jenis ikan ini dipilih karena memiliki kandungan daging hitam yang minim. Menurut Wahyuni, jenis ikan dengan daging hitam dominan akan menghasilkan rasa sedikit asam usai diasap.

Kualitas kesegaran ikan menjadi harga mati. Pengolah menolak keras menggunakan bahan baku ikan beku demi menjaga cita rasa serta kekenyalan daging.

“Kalau tidak ada ikan segar, kami tangguhkan dulu. Kalau pakai ikan beku, dagingnya mudah luluh setelah dicairkan,” tegasnya.

Untuk melengkapi kenikmatan ikan asap, plongos disajikan bersama sambal racikan cabai, perasan jeruk limau, gula Bali, dan bumbu rahasia. Olahan ini dijual bervariasi dari belasan hingga puluhan ribu rupiah per ekor tergantung ukuran ikan.

Pada ajang pesta rakyat seperti Buleleng Festival, olahan plongos selalu ludes diburu pengunjung hingga 100 ekor saban harinya. 

Bagi warga lokal, plongos bukan sekadar pengganjal perut, melainkan identitas rasa dan simbol kemandirian ekonomi masyarakat pesisir Pengastulan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
Kuliner Buleleng Plongos Pengastulan Ikan Asap Pengastulan Kuliner Khas Bali Utara berita buleleng