BANJAR, RadarBuleleng.id – Harga komoditas yang anjlok saat panen raya masih menjadi mimpi buruk yang membayangi para petani anggur lokal di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng.
Guna memutus rantai kerugian tersebut, Tim Bestari Scientech dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menerjunkan program pemberdayaan berbasis Living Lab (Laboratorium Hidup).
Pendampingan pascapanen ini difokuskan untuk membekali petani lokal keterampilan mengolah hasil panen menjadi produk bernilai jual tinggi.
Salah satu petani anggur Desa Banjar, Made Budiasa mengungkapkan, anjloknya harga anggur terjadi nyaris tiap tahun.
Saat panen melimpah, harga anggur lokal kerap merosot tajam hingga menyentuh angka Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram.
"Paling sering biasanya terjadi pas musim panen periode Desember sampai Januari. Curah hujan yang tinggi membuat buah anggur cepat busuk di pohon. Sering kali dibiarkan begitu saja karena biaya petik tidak sebanding dengan harga jual," tutur Budiasa, Jumat (4/9/2026).
Merespons keluhan petani, Tim Bestari Scientech Undiksha yang dipimpin I Wayan Widiana menggelar pelatihan pengolahan diferensiasi produk.
Petani diajarkan menyulap anggur segar menjadi sari buah, dodol, serta aneka olahan panganan lokal.
Perwakilan Tim Undiksha, Uzlifatul Hasanah, menjelaskan bahwa program ini dirancang secara berkesinambungan agar pendapatan petani tetap stabil meski di tengah cuaca ekstrem maupun panen raya.
"Program pendampingan ini mencakup optimalisasi budidaya anggur lokal, peningkatan mutu pengelolaan produk agar sesuai harapan pasar, hingga fasilitasi strategi pemasaran," jelas Uzlifatul.
Melalui sinergi akademisi dan petani di lapangan, komoditas anggur lokal khas Kecamatan Banjar diharapkan tidak lagi dibuang, melainkan mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif berbasis pertanian di Bali Utara. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng