RadarBuleleng.id - Umat Hindu tersebar di seluruh penjuru nusantara. Termasuk di Provinsi Sumatera Selatan.
Eksistensi umat di Bumi Sriwijaya - sebutan untuk Provinsi Sumatera Selatan - tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka tetap menjalankan aktivitas dharma dan yadnya, meski dengan berbagai keterbatasan.
Contohnya di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, pada tahun 2023 hanya ada 1.599 orang umat Hindu di sana.
Jumlah umat Hindu di sana hanya mencakup 0,38 persen dari total penduduk di OKU Selatan.
Umat Hindu di Kabupaten OKU Selatan rata-rata tinggal di Kecamatan Buay Pemaca. Ada juga yang tinggal di Kecamatan Muaradua Kisam, Buay Rawan, dan Simpang.
Khusus di Kecamatan Simpang, ada 197 orang umat Hindu yang tinggal di sana. Kendati jumlahnya terbatas, mereka tetap berusaha menjaga eksistensi umat.
Salah satunya dengan membentuk Pasraman Widya Dharma. Pasraman yang terletak di Desa Karang Agung, Kecamatan Simpang itu menjadi oase bagi umat untuk mendapat siraman agama.
Jumlah pemeluk agama Hindu yang terbatas, seringkali membuat umat kesulitan mendapat pendidikan agama yang memadai. Terutama anak-anak yang memeluk agama Hindu.
Sekolah rata-rata tidak menyediakan agama Hindu. Sehingga pasraman menjadi tempat mereka untuk belajar agama, memperkuat identitas agama, sekaligus melestarikan ajaran dan agama Hindu.
Pasraman itu didirikan pada tahun 2014 lalu. Lembaga itu baru tercatat secara resmi di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan pada 2016.
Saat ini, ada 30 orang anak yang beraktivitas di pasraman itu. Mereka rata-rata masih menempuh pendidikan di jenjang SD hingga SMP.
Kendati sudah berdiri sejak 10 tahun lalu, pasraman itu masih menemui sejumlah tantangan. Pasraman saat ini hanya bisa buka pada Sabtu dan Minggu. Hal itu dilakukan, karena umat dari seluruh desa di Kecamatan Simpang menitipkan anak-anak mereka untuk menerima siraman rohani.
Rata-rata mereka harus menempuh jarak tempuh hingga 20 menit dari tempat tinggal menuju ke pasraman. Sehingga bila dibuka secara reguler, maka orang tua juga akan kesulitan melakukan aktivitas antar jemput.
Jumlah tenaga pendidik di Pasraman Widya Dharma juga sangat terbatas. Saat ini para siswa mendapat pendidikan dari dua orang guru. Seorang diantaranya adalah penyuluh agama Hindu non-PNS dari Kanwil Kemenag Sumsel.
Guru-guru di pasraman tersebut tidak pernah mendapat gaji tetap. Namun mereka tetap semangat ngayah, meski dengan berbagai keterbatasan.
“Kami hanya ingin generasi muda Hindu di luar Bali dapat memahami dan melestarikan tradisi serta ajaran agama kita,” ujar Wayan Riski Subagie, salah seorang guru.
Di pasraman itu, anak-anak mendapat berbagai materi tentang agama Hindu. Diantaranya membaca dan menghafal sloka.
Mereka juga diajak mengenal ritual upacara keagamaan. Mulai dari tata cara sembahyang hingga cara membuat perlengkapan atau alat upacara.
Siswa juga diajak memahami susila atau nilai-nilai etika dalam agama Hindu, termasuk berlatih tari Bali dan bahasa Bali.
Metode pembelajaran di pasraman juga dilakukan dengan kreatif dan inovatif. Salah satunya dengan menggunakan kahoot maupun wordwall. Metode kuis interaktif terbukti efektif membuat pembelajaran lebih menarik.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Simpang, Nengah Kariate mengungkapkan, pasraman itu menjadi lokasi bagi umat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Lantaran sekolah umum tidak mengajarkan agama Hindu secara mendalam.
“Di sekolah formal, siswa tidak mendapatkan pelajaran agama Hindu yang memadai. Pasraman ini menjadi solusi bagi umat,” ujarnya.
Kariate mengatakan, pasraman tersebut memberikan ruang bagi anak-anak dan remaja untuk belajar lebih dalam tentang agama mereka.
Setiap minggu, pasraman mengadakan kelas agama pada hari Minggu, sementara hari Sabtu diadakan latihan tari dan kegiatan gotong royong bersama.
Terpisah, Pendiri Pasraman Widya Dharma, Sujana berkomitmen mempertahankan pasraman tersebut. Kendati terbatas dalam fasilitas dan dana.
Bagi dirinya, yang paling penting adalah generasi muda Hindu di Kabupaten OKU Selatan, khususnya Kecamatan Simpang dapat menjaga dan meneruskan ajaran serta budaya Hindu yang luhur.
“Karena mereka masa depan umat Hindu di luar Bali. Paling tidak mereka bisa mengamalkan ajaran agama dan menjaga budaya yang telah diwariskan,” demikian Sujana. (kontributor: kankoma sutarmi)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya