RadarBuleleng.id - Bekerja di kapal pesiar menjadi idaman bagi sebagian pemuda Bali. Tak terkecuali bagi para pemuda di Buleleng. Apalagi Buleleng terkenal sebagai daerah yang paling banyak mengirimkan pekerja migran ke kapal pesiar.
Seperti yang dilakoni Gede Darma Astania. Pemuda asal Desa Tejakula itu kini mengadu nasib sebagai seorang Pekerja Migran. Pemuda kelahiran 6 Desember 2001 itu mendapat kesempatan bekerja di Kapal Pesiar Carnival Cruise Line.
Gede Darma pun sempat membagi cerita suka dukanya selama bekerja di kapal pesiar. Alumnus Sekolah SMK Negeri 1 Tejakula itu pertama kali menjejakkan kaki di kapal pesiar pada 21 April 2023.
Dia sudah dua kali kontrak bekerja di sana dengan jabatan sebagai assistant cook. Kini Darma sedang mengurus surat-surat keberangkatan untuk kali ketiga.
Pemuda 23 tahun itu mengungkapkan, keinginannya bekerja di kapal pesiar terbesit semenjak duduk di bangku SMK. Saat itu ia sudah memiliki bayangan bahwa bekerja di kapal pesiar akan menghasilkan uang yang cukup banyak.
Sejumlah keluarganya juga sudah lebih dulu bekerja di kapal pesiar. Seperti paman dan kakak sepupunya. Taraf hidup kerabatnya itu sudah jauh lebih baik, bila dibandingkan sebelum mengadu nasib sebagai pelaut.
Namun keinginan tak selalu terkabul, bahkan bisa muncul penolakan. Tatkala meminta izin, orang tuanya sempat menolak keinginan sang anak. Mereka berharap agar Darma di kampung halaman dan bekerja sebagai PNS.
Seiring dengan himpitan ekonomi, orang tuanya akhirnya melunak. Mereka mengizinkan Gede Darma melaut di negeri orang. Dengan catatan, saat ekonomi keluarga sudah stabil maka Darma harus pulang kampung. Maklum, dia anak lelaki satu-satunya. Calon purusa di keluarga.
Berbekal restu orang tua serta pengetahuan yang didapat dari tempat pelatihan, dia memantapkan diri bekerja di Carnival Cruise Line.
Tetapi pada hari pertama kerja dia sudah berhadapan dengan kenyataan pahit. Atasannya langsung memberikan teguran keras. Gegara dia terlambat beberapa menit. Hari itu, atasannya melarang Darma bekerja.
Dalam kondisi gelisah karena takut dipecat, dia berjalan gontai kembali ke kamar. Dengan kondisi kalut dia hanya bisa menangis sambil melihat foto keluarganya di handphone. Dia pun berusaha menguatkan diri agar tidak menyerah. Karena berangkat ke kapal pesiar merupakan keinginannya, sekaligus menjadi harapan untuk membantu memajukan ekonomi keluarga.
Darma mengaku bekerja di kapal pesiar sebenarnya tidak seindah foto yang terlihat di media sosial. Kerap kali masyarakat menganggap mereka yang bekerja di kapal pesiar bisa hidup glamour.
Para pekerja kapal pesiar bisa keliling dunia. Berwisata di luar negeri. Sekaligus memberi barang-barang bermerek dengan harga mahal.
Darma mengatakan, komunikasi menjadi tantangan utama saat bekerja di kapal pesiar. Perusahaan kapal pesiar mempekerjakan orang dari berbagai negara. Terkadang ada yang belum fasih berbahasa Inggris atau menggunakan dialek yang berbeda, sehingga membuat komunikasi terhambat.
“Jam kerja juga panjang dan sangat tidak teratur. Kru harus siap bekerja dalam shift yang sangat panjang, bahkan tidak ada waktu untuk istirahat yang cukup,” ceritanya.
Bayangkan saja, setiap mereka yang bekerja di kapal pesiar akan menjalani kontrak selama 6 bulan, 8 bulan, 10 bulan bahkan ada yang sampai 12 Bulan dalam sekali kontrak. Waktu bekerja tidak selalu berlangsung selama 8 jam, namun bisa berlangsung lebih lama lagi.
Meskipun kapal pesiar berkeliling ke berbagai tempat, kehidupan kru kapal juga terbatas. Karena ruang gerak mereka dibatasi ruang-ruang tertentu di kapal. Terkadang mereka juga cepat jenuh karena harus melakukan pekerjaan yang sama terus menerus secara berulang-ulang.
Belum lagi stigma bahwa kehidupan para pelaut itu bebas. Seperti mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, hingga seks bebas di kabin kapal.
Hal yang selama ini membuat ia bertahan adalah gaji. Gaji yang ia dapat dari bekerja di kapal pesiar jauh lebih besar. “Kalau dibandingkan dengan pekerjaan lain dengan level yang sama di darat (di hotel), jauh lebih tinggi,” ungkapnya.
Untuk mengatasi rasa jenuh bekerja, Darma selalu menyempatkan diri menjelajahi beberapa tempat wisata. Mengingat perusahaan juga menyediakan paket wisata kepada kru kapal yang diberikan secara cuma-cuma.
“Perusahaan juga menyiapkan berbagai keperluan. Kecuali kalau mau cari makanan kesukaan, ya harus bayar. Tergantung pintar-pintar belanja dan atur uang,” ujarnya.
Selama ini biaya terbesar yang ia habiskan adalah membeli paket internet. Paket itu ia gunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga. Bukan sekadar berkomunikasi, dia juga selalu meminta orang tuanya memberi doa agar dia mendapat kesehatan dan keselamatan dalam setiap perjalanan.
Sementara itu, orang tua Gede Darma, Ketut Sucita Arta mengatakan, awalnya mereka merasa tidak rela jika Darma harus bekerja jauh dari orang tua.
Lama kelamaan, mereka paham bahwa Darma harus diberikan kesempatan merantau. Dengan mengenal kehidupan di luar, maka putranya akan mendapat pelajaran berharga yang akhirnya akan membentuk Darma menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bijaksana.
“Kami percaya bahwa kerja keras yang dilakukan anak kami selama ini untuk masa depan keluarga yang lebih baik. Kami sangat menghargai setiap pengorbanannya dan kami selalu mendoakan supaya karirnya terus berkembang,” ungkap Sucita. (kontributor: Kadek Helvy Sapariyani Ningsih)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya