Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kisah Dibalik Ambruknya Jembatan Lalan: Sawit Mengering, Pendapatan Buruh Ikut Susut

Admin • Minggu, 1 Desember 2024 | 21:23 WIB

 

AKSES VITAL: Jembatan Lalan yang putus akibat tertabrak kapal tongkang. Akses warga, utamanya dalam proses pengangkutan sawit menjadi terganggu.
AKSES VITAL: Jembatan Lalan yang putus akibat tertabrak kapal tongkang. Akses warga, utamanya dalam proses pengangkutan sawit menjadi terganggu.

RadarBuleleng.id - Rangka besi sisa Jembatan Lalan di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, masih terlihat di permukaan. Jembatan itu membentang di Sungai Musi yang membelah Kabupaten Musi Banyuasin.

Jembatan itu diketahui ambruk pada 12 Agustus silam. Penyebabnya, jembatan ditabrak kapal tongkang pengangkut batubara. Dampaknya, 5 orang menjadi korban.

Hingga kini belum ada tanda-tanda jika jembatan itu akan segera diperbaiki. Dampaknya, akses warga untuk bekerja di lahan perkebunan sawit menjadi terganggu. Untuk sementara penyeberangan menggunakan kapal ponton.

Mereka juga harus menempuh jalan memutar. Normalnya perjalanan dari rumah menuju kebun kelapa sawit hanya memakan waktu 5 menit saja. Namun gara-gara jembatan putus, waktu tempuh menjadi lebih panjang menjadi 10-15 menit.

Seperti yang dialami Suripto, buruh kelapa sawit yang tinggal di Desa Suka Jadi, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin.

Suripto mengaku harus menyeberang menggunakan kapal ponton. Aktivitasnya harus menyesuaikan jam operasional dermaga. Dampaknya warga yang memiliki usaha pohon sawit harus berhitung waktu dengan cermat apabila ingin beraktivitas. Apalagi bila harus menyeberangi sungai.

“Kami kesusahan kalau mau beraktivitas. Karena jembatan itu putus jadi kami harus cari jalan memutar, untuk bisa pulang. Dulu ada jembatan, paling 5 menit saja sudah sampai,” keluh Suripto.

Tak hanya itu, para pemasok kelapa sawit juga harus menanggung rugi. Gegara jembatan putus, mereka tidak bisa mengirimkan sawit dengan cepat.

Biasanya, setelah memetik sawit, para pemasok akan bergegas mengirim sawit ke pabrik. Karena semakin lama pengiriman, menyebabkan sawit menjadi kering. Beratnya pun menjadi susut.

Salah seorang pemasok, Nyoman Tantrum mengatakan, dirinya harus menahan pengiriman sawit lebih lama. Karena terlambat mengirim, kelapa sawit yang tadinya 20 ton akhirnya susut menjadi 16 ton saja.

“Mau dipaksakan juga susah. Mau bagaimana lagi? Akhirnya pendapatan jadi jauh dari target yang seharusnya,” keluh Tantrum.

Konon pemerintah kini tengah berproses untuk memperbaiki jembatan tersebut. Disebut ada 13 perusahaan yang siap memberikan dana talangan perbaikan. Masing-masing perusahaan akan menyiapkan dana sebanyak Rp 300 juta.

Dengan skema tersebut, harapannya pada Januari 2025 nanti, perbaikan jembatan sudah mulai dilakukan. Sehingga aktivitas warga tidak lagi terganggu. (kontributor: Ni Putu Sri Setiti)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#batubara #buruh #jembatan #Musi Banyuasin #sawit