Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Bocah 8 Tahun Meninggal, Masyarakat Diminta Tidak Abaikan Gigitan Hewan Penular Rabies

Muhammad Basir • Senin, 19 Mei 2025 | 19:05 WIB
Vaksinasi rabies di Desa Tegal Badeng Barat, usai tejadi kasus anak 8 tahun meninggal suspek rabies.
Vaksinasi rabies di Desa Tegal Badeng Barat, usai tejadi kasus anak 8 tahun meninggal suspek rabies.

Radarbuleleng.jawapos.com- Meninggalnya bocah 8 tahun karena suspek rabies, salah satu contoh bahwa masyarakat masih abai dengan bahaya rabies.

Ketika terjadi gigitan hewan penular rabies (HPR), meskipun peliharaan sendiri tidak langsung datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.

Hal tersebut diungkapkan Pelaksana tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Sumber Wijaya.

Menurutnya, meksipun tidak bisa disebut pasti rabies, karena anjing yang menggigit tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium di BBvet Denpasar,  dari pemeriksaan medis gejala-gejala yang dialami mengarah ke suspek rabies.

”Kami tidak berani menyatakan ini murni rabies karena belum ada pemeriksaan sampel otak anjing yang gigit,” ujarnya.

Kasus meninggalnya bocah 8 tahun karena suspek rabies ini menjadi salah satu contoh masyarakat masih abai dengan penyebaran rabies.

”Sudah banyak kasus yang terjadi. Kasus yang di Desa Tebal Badeng Barat salah satunya,” jelasnya.

Karena itu yang perlu ditekankan, masyarakat tidak abai dengan kasus gigitan HPR.

Apabila terjadi gigitan, langsung datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis. Karena apabila terlambat dan salah penanganan, akan berakibat fatal.

Sedangkan terhadap HPR yang menggigit, akan ditindaklanjuti oleh Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, untuk melakukan penanganan awal. Melakukan pengambilan sampel otak HPR yang menggigit untuk memastikan apakah rabies atau tidak.

”Kalau tidak datang ke faskes, korban gigitan tidak ditangani dan HPR yang menggigit juga tidak ditindaklanjuti,” imbuhnya.

Selain vaksinasi, pejabat yang juga sebagai asisten II Sekda ini, ke depan akan memaksimalkan tim siaga rabies (Tisira) di setiap desa.

Tim yang merupakan gabungan dari desa adat, desa dinas dan aparat desa ini, sebagai tim yang mensosialisasikan mengenai rabies juga sebagai tim penanganan awal ketika terjadi kasus gigitan rabies.

Sumber menambahkan, vaksinasi yang telah dilakukan selama ini juga akan diubah polanya. Nantinya, tim vaksinasi yang ada tidak melakukan vaksinasi di wilayah masing - masing, tetapi semua tim akan melakukan vaksinasi serentak di satu desa sampai tuntas.

Sehingga, capaian vaksinasi rabies bisa maksimal menyasar seluruh HPR, terutama peliharaan, diliarkan atau yang memang liar.

Seperti diketahui, seorang anak berusia 8 tahun, I Gusti Agung FW, meninggal di rumah sakit umum (RSU) Negara, Senin (12/5) malam.

Dari gejala dan riwayat yang dialami, diduga terinfeksi virus rabies. Korban memiliki riwayat digigit anjing peliharaannya sendiri, tetapi tidak melaporkan kepada instansi terkait.

Awalnya pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 3 hari sebelumnya. Kondisinya semakin parah Senin siang hingga sore, bahkan pasien tidak bisa diajak komunikasi.

Bahkan saat itu, pasien disebutkan kelurganya tidak mau minum dan takut air.

Dari keterangan pihak keluarga kepada dokter yang menangani, bahwa pasien memiliki riwayat digigit anjing pada betis kiri sekitar 2 bulan lalu.

Anjing peliharaan sendiri itu, kemudian mati sekitar 2-3 Minggu setelah menggigit. Tetapi keluarga tidak membawa pasien untuk pengobatan pascagigitan anjing.***

Editor : Donny Tabelak
#distan jembrana #hewan penular rabies #rabies